Menghafal Qur’an merupakan kegiatan
yang mulia karena terdapat banyak reward dari Allah bagi siapa saja yang
menghafalnya, sebagaimana yang disebutkan didalam kitab At-Tibyan fi Halamatil
Qur’an karya imam An-Nawawi Rahimahullah bahwa penghafal Qur’an berada
dikedudukan yang tinggi berdasarkan akhir ayat yang ia baca diyaumil akhir. Diriwayatkan
dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash Rasulullah ﷺ bersabda :
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ
وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ
عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Artinya:
“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al-Qur’an nanti, ‘Bacalah
dan naiklah serta tartil lah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena
kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal)’.”(HR. Imam Abu
Daud, At-Tarmidzi, dan An-nasa’i. Imam At-Tarmidzi berkata : “status hadist ini
Hasan Shahih).
Diriwayatkan
dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha Nabi ﷺ bersabda :
مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ
السَّفَرَةِ الْكِرَامِ ، وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ
يَتَعَاهَدُهُ وَهْوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ ، فَلَهُ أَجْرَانِ
Artinya: “Orang
yang membaca dan menghafal Al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia.
Sementara orang yang membaca Al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu
menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari 4937)
Dua hadist diatas
paling tidak bisa mewakili dari banyak nya hadist yang menceritakan tentang
keuatamaan-keutamaan yang didapat bagi penghafal Al-Qur’an.
Diera kekinian
kegiatan menghafal Qur’an sudah semakin banyak diminati oleh kaum muslimin
khususnya di Indonesia, hal ini ditandai dengan banyaknya kajian-kajian,
dauroh-dauroh yang bertemakan mengahafal Qur’an bahkan dengan metode tertentu
yang diyakini bisa cepat dalam menghafalnya. Berfokus dengan metode yang
digunakan serta muroja’ah dalam menghafal Al-Qur’an menjadikan aspek ikhtiar
sebagai hal yang diutamakan sehingga melalaikan aspek spiritual. Dalam tulisan
ini mengangkat tema bahwa esensi menghafal Qur’an berfokus pada aspek
spiritual,bukan sekedar aspek ikhtiar semata.
Manhaj utama menghafal Qur’an berdasarkan
firman Allah ﷻ :
لَا تُحَرِّكْ
بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ [١٦] إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ [١٧]
Artinya: “janganlah engkau (Muhammad) menggerakkan
lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat untuk (menguasai)
nya”, “sesungguhnya kami yang akan mengumpulkannya (didadamu) dan
membacakannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16-17)
Ayat diatas menjelaskan
kepada kita bahwa Allah melarang Nabi-Nya untuk membaca Al-Qur’an
cepat/buru-buru, hal ini dapat kita ketahui berdasarkan asbabun nuzul dari ayat
ini. Sebagaimana disebutkan didalam kitab Asbabun Nuzul karya Imam As-Suyuthi
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: setiap kali menerima wahyu,
Rasulullah ﷺ menggerakkan lisannya
dengan cepat untuk menghafal ayat tersebut (sebelum Jibril meninggalkan
beliau).(HR. Al-Bukhari)
Dalam penelusuran
kaidah ‘ulumul Qur’an, redaksi ayat ke 16 menunjukkan keumuman karena tidak
disebutkan secara langsung objek pembicara yakni Nabi Muhammad ﷺ. Maka
dalam hal ini jumhur ‘Ulama ushul berpendapat bahwa yang menjadi acuan adalah
lafadz yang umum,bukan sebab yang khusus. Maka ayat ini berlaku bagi orang yang
dikhususkan Asbabun Nuzulnya (Nabi Muhammad) dan orang lain yang sama
sepertinya. (mabahits fi ulumil Qur’an karya syaikh Manna’ Al-Qathhan).
Dua ayat ini jika
dimaknai secara keseluruhan menjelaskan manhaj utama bagi seorang penghafal
Qur’an ialah bagaimana ia meneladani cara kehidupan Rasulullah ﷺ sehingga
ia adalah orang yang termasuk bagian dari ayat ini, dikuatkan dengan ayat yang
lain. Allah ﷻ berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ
كَثِيرًا [٣٣:٢١]
Artinya: “sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
(QS. Al-Ahzab: 21)
Dengan meneladani Rasulullah, kita mendapatkan
kesempatan yang sama seperti beliau, yakni Allah akan tanamkan Al-Qur’an kejiwa
kita sehingga apa yang dihafal memberikan sinyal ke seluruh tubuh untuk
kemudian teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang
dikatakan oleh ‘Aisyah tatkalah beliau ditanya oleh Hisyam bin Amir tentang
Akhlaq Rasulullah ﷺ . Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Kana
khuluquhu Al-Qur'an (Akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an).” (HR. Muslim)
Penjelasan diatas
memotivasi kita agar senantiasa untuk berikhtiar sebagaimana Nabi juga ikhtiar
dalam menghafal Qur’an yang diturunkan melalui malaikat Jibril, yang kemudian
ditegur oleh Allah karena tergesa-gesa dalam menghafalnya. Bersungguh-sungguh
dalam berikhtiar adalah sikap yang baik bagi seorang muslim dalam menghafal
Al-Qur’an disertai dengan meningkatkan nilai ketaqwaan di hadapan Allah dengan
meneladani Rasulullah ﷺ , maka
Allah akan tanamkan Al-Qur’an kejiwa kita sehingga apa yang dihafal memberikan
sinyal ke seluruh tubuh yang kemudian teraktualisasikan dalam kehidupan
sehari-hari.



No comments: