Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» » Esensi Menghafal Qur’an

 



Menghafal Qur’an merupakan kegiatan yang mulia karena terdapat banyak reward dari Allah bagi siapa saja yang menghafalnya, sebagaimana yang disebutkan didalam kitab At-Tibyan fi Halamatil Qur’an karya imam An-Nawawi Rahimahullah bahwa penghafal Qur’an berada dikedudukan yang tinggi berdasarkan akhir ayat yang ia baca diyaumil akhir. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash Rasulullah bersabda :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Artinya: “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartil lah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal)’.”(HR. Imam Abu Daud, At-Tarmidzi, dan An-nasa’i. Imam At-Tarmidzi berkata : “status hadist ini Hasan Shahih).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha Nabi bersabda :

مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ ، وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهْوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ ، فَلَهُ أَجْرَانِ

Artinya: “Orang yang membaca dan menghafal Al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca Al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari 4937)

Dua hadist diatas paling tidak bisa mewakili dari banyak nya hadist yang menceritakan tentang keuatamaan-keutamaan yang didapat bagi penghafal Al-Qur’an.

Diera kekinian kegiatan menghafal Qur’an sudah semakin banyak diminati oleh kaum muslimin khususnya di Indonesia, hal ini ditandai dengan banyaknya kajian-kajian, dauroh-dauroh yang bertemakan mengahafal Qur’an bahkan dengan metode tertentu yang diyakini bisa cepat dalam menghafalnya. Berfokus dengan metode yang digunakan serta muroja’ah dalam menghafal Al-Qur’an menjadikan aspek ikhtiar sebagai hal yang diutamakan sehingga melalaikan aspek spiritual. Dalam tulisan ini mengangkat tema bahwa esensi menghafal Qur’an berfokus pada aspek spiritual,bukan sekedar aspek ikhtiar semata.

 Manhaj utama menghafal Qur’an berdasarkan firman Allah :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ [١٦] إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ [١٧]

Artinya: “janganlah engkau (Muhammad) menggerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat untuk (menguasai) nya”, “sesungguhnya kami yang akan mengumpulkannya (didadamu) dan membacakannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16-17)

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa Allah melarang Nabi-Nya untuk membaca Al-Qur’an cepat/buru-buru, hal ini dapat kita ketahui berdasarkan asbabun nuzul dari ayat ini. Sebagaimana disebutkan didalam kitab Asbabun Nuzul karya Imam As-Suyuthi diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: setiap kali menerima wahyu, Rasulullah menggerakkan lisannya dengan cepat untuk menghafal ayat tersebut (sebelum Jibril meninggalkan beliau).(HR. Al-Bukhari)

Dalam penelusuran kaidah ‘ulumul Qur’an, redaksi ayat ke 16 menunjukkan keumuman karena tidak disebutkan secara langsung objek pembicara yakni Nabi Muhammad . Maka dalam hal ini jumhur ‘Ulama ushul berpendapat bahwa yang menjadi acuan adalah lafadz yang umum,bukan sebab yang khusus. Maka ayat ini berlaku bagi orang yang dikhususkan Asbabun Nuzulnya (Nabi Muhammad) dan orang lain yang sama sepertinya. (mabahits fi ulumil Qur’an karya syaikh Manna’ Al-Qathhan).

Dua ayat ini jika dimaknai secara keseluruhan menjelaskan manhaj utama bagi seorang penghafal Qur’an ialah bagaimana ia meneladani cara kehidupan Rasulullah sehingga ia adalah orang yang termasuk bagian dari ayat ini, dikuatkan dengan ayat yang lain. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [٣٣:٢١]

Artinya: “sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Dengan meneladani Rasulullah, kita mendapatkan kesempatan yang sama seperti beliau, yakni Allah akan tanamkan Al-Qur’an kejiwa kita sehingga apa yang dihafal memberikan sinyal ke seluruh tubuh untuk kemudian teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyah tatkalah beliau ditanya oleh Hisyam bin Amir tentang Akhlaq Rasulullah . Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Kana khuluquhu Al-Qur'an (Akhlak Nabi adalah Al-Qur'an).” (HR. Muslim)

Penjelasan diatas memotivasi kita agar senantiasa untuk berikhtiar sebagaimana Nabi juga ikhtiar dalam menghafal Qur’an yang diturunkan melalui malaikat Jibril, yang kemudian ditegur oleh Allah karena tergesa-gesa dalam menghafalnya. Bersungguh-sungguh dalam berikhtiar adalah sikap yang baik bagi seorang muslim dalam menghafal Al-Qur’an disertai dengan meningkatkan nilai ketaqwaan di hadapan Allah dengan meneladani Rasulullah , maka Allah akan tanamkan Al-Qur’an kejiwa kita sehingga apa yang dihafal memberikan sinyal ke seluruh tubuh yang kemudian teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply