Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
bagaimana kabar Ikhwah fillah?
Semoga
kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya.
Aamiin.
Pada
kesempatan kali ini kita akan membahas
mengenai pentingnya menjaga lisan. Wahai Ikhwah fillah, tentunya kita sudah
tidak asing dengan peribahasa yang mengatakan bahwa “Lidah lebih tajam daripada
pedang”. Ya, hal itu memang benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia
berupa lisan kepada manusia untuk berbicara. Hal itu merupakan karunia yang
sangat luar biasa. Namun sayangnya, banyak dari kita yang masih sulit dalam
mengendalikan lisannya.
Wahai
ikhwah fillah, seringkali lisan kita tergelincir mengucapkan kata-kata kotor,
mencela orang lain, membicarakan orang lain bahkan tergelincir mengucapkan
kata-kata yang mengandung kesyirikan dan kekufuran. Terlebih lagi di zaman modern
ini, ketajaman lisan terkadang juga dapat terwujud melalui aktifitas di media
sosial melalui status-status yang ditulis.
Oleh
karena itu, islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia agar dapat
melaksanakan ajaran Islam secara utuh sehingga dapat mencapai kebahagiaan di
dunia maupun di akhirat. Salah satunya mengenai perintah untuk berhati-hati
dengan lisan. Membiasakan berkata baik atau diam dari perkataan buruk merupakan
sifat mukmin sejati. Menjaga lisan berarti tidak berbicara atau mengungkapkan
kecuali yang baik-baik, menjauhi perkataan buruk dan kotor, menghindari ghibah,
fitnah serta adu domba. Karena lisan seringkali menjadi perkara awal dalam
setiap permasalahan manusia. Banyak di antara kita yang sebenarnya menyadari
bahaya dari lisan, akan tetapi dalam prakteknya justru kebanyakan dari kita tidak
menghiraukan bahaya lisan tersebut. Padahal jika kita pahami dengan baik, lisan
yang dijaga mempunyai manfaat yang sangat besar bahkan dapat bernilai ibadah.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا
مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ
يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا
عَظِيْمًا
“Tidak
ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan
rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan,
atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian
karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang
besar.” (QS. An-Nisa’: 114)
Wahai
Ikhwah fillah, menjaga lisan merupakan perkara yang tidak dapat dianggap remeh.
Sebab di akhirat kelak, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas
setiap perkataannya.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ
عَتِيْدٌ
“Tidak
ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas
yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ ۗاِنَّ
السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ
مَسْـُٔوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang
tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu
akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Hendaklah
seseorang berpikir sebelum berucap. Sebab tergelincirnya lisan akan menghantarkan seseorang
kepada neraka.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba
yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih
dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh
dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)
Oleh
karena itu, kita sebagai manusia hendaknya merenung dalam diri sebelum berucap.
Jika memang perkataan kita ada manfaatnya maka kita baru berbicara. Namun jika
tidak, hendaklah kita menahan lisan ini. Akan tetapi, dengan lisan kita juga
dapat ditinggikan derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba
berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat
derajatnya
disebabkan perkataannya itu.” (HR.Bukhari)
Ketinggian
derajat disini bisa diperoleh jika lisan selalu diarahkan pada perkara
kebaikan, diantaranya dengan berdoa, membaca Al-Qur’an, berdakwah di jalan
Allah, mengajarkan orang lain di majelis ilmu dan lain sebagainya. Semoga kita
dimudahkan oleh Allah untuk menjaga lisan ini dan mengarahkannya kepada hal-hal
yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Penulis:
Fira Nandia dan Qulbiyani Rukmana
Sumber:
Ar-Rohmah Tahfizh. (2020).
“Berhati-hatilah Dengan Lisan Kita” dalam https://arrohmahtahfizh.sch.id/portfolio/berhati-hatilah-dengan-lisan-kita/.
Diakses pada 20 Oktober 2021.
Puniman, A. (2018). “Keutamaan
Menjaga Lisan dalam Perspektif Hukum Islam”. Jurnal Yustitia. Vol. 19, No. 2.
Tuasikal, Muhammad Abduh. (2010).
“Hati-Hati Dengan Lisan” dalam https://rumaysho.com/774-hati-hati-dengan-lisan.html
. Diakses pada 25 Oktober 2021.



No comments: