Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» » HATI-HATI DENGAN LISAN

 


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar Ikhwah fillah?

Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Aamiin.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai pentingnya menjaga lisan. Wahai Ikhwah fillah, tentunya kita sudah tidak asing dengan peribahasa yang mengatakan bahwa “Lidah lebih tajam daripada pedang”. Ya, hal itu memang benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia berupa lisan kepada manusia untuk berbicara. Hal itu merupakan karunia yang sangat luar biasa. Namun sayangnya, banyak dari kita yang masih sulit dalam mengendalikan lisannya.

Wahai ikhwah fillah, seringkali lisan kita tergelincir mengucapkan kata-kata kotor, mencela orang lain, membicarakan orang lain bahkan tergelincir mengucapkan kata-kata yang mengandung kesyirikan dan kekufuran. Terlebih lagi di zaman modern ini, ketajaman lisan terkadang juga dapat terwujud melalui aktifitas di media sosial melalui status-status yang ditulis.

Oleh karena itu, islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia agar dapat melaksanakan ajaran Islam secara utuh sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Salah satunya mengenai perintah untuk berhati-hati dengan lisan. Membiasakan berkata baik atau diam dari perkataan buruk merupakan sifat mukmin sejati. Menjaga lisan berarti tidak berbicara atau mengungkapkan kecuali yang baik-baik, menjauhi perkataan buruk dan kotor, menghindari ghibah, fitnah serta adu domba. Karena lisan seringkali menjadi perkara awal dalam setiap permasalahan manusia. Banyak di antara kita yang sebenarnya menyadari bahaya dari lisan, akan tetapi dalam prakteknya justru kebanyakan dari kita tidak menghiraukan bahaya lisan tersebut. Padahal jika kita pahami dengan baik, lisan yang dijaga mempunyai manfaat yang sangat besar bahkan dapat bernilai ibadah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا  

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 114)

Wahai Ikhwah fillah, menjaga lisan merupakan perkara yang tidak dapat dianggap remeh. Sebab di akhirat kelak, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perkataannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا 

 “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Hendaklah seseorang berpikir sebelum berucap. Sebab tergelincirnya lisan akan menghantarkan seseorang kepada neraka. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, kita sebagai manusia hendaknya merenung dalam diri sebelum berucap. Jika memang perkataan kita ada manfaatnya maka kita baru berbicara. Namun jika tidak, hendaklah kita menahan lisan ini. Akan tetapi, dengan lisan kita juga dapat ditinggikan derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu.” (HR.Bukhari)

Ketinggian derajat disini bisa diperoleh jika lisan selalu diarahkan pada perkara kebaikan, diantaranya dengan berdoa, membaca Al-Qur’an, berdakwah di jalan Allah, mengajarkan orang lain di majelis ilmu dan lain sebagainya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjaga lisan ini dan mengarahkannya kepada hal-hal yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

 

Penulis: Fira Nandia dan Qulbiyani Rukmana

Sumber:

Ar-Rohmah Tahfizh. (2020). “Berhati-hatilah Dengan Lisan Kita” dalam https://arrohmahtahfizh.sch.id/portfolio/berhati-hatilah-dengan-lisan-kita/. Diakses pada 20 Oktober 2021.

Puniman, A. (2018). “Keutamaan Menjaga Lisan dalam Perspektif Hukum Islam”. Jurnal Yustitia. Vol. 19, No. 2.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2010). “Hati-Hati Dengan Lisan” dalam https://rumaysho.com/774-hati-hati-dengan-lisan.html . Diakses pada 25 Oktober 2021.

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply