Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» » Aku Ingin Masuk Surga Bersama Keluarga


Apabila di tanyakan kepada seluruh manusia di muka bumi ini tentang Siapa yang ingin masuk surga? Tentu semua orang akan menjawab Saya Ingin. Lalu bagaimana persiapan kita untuk menuju surga juga butuh di pertanyakan. Berapa banyak orang yang bercita-cita masuk surga namun realisisasinya nol besar. Untuk bisa masuk surga butuh perjuangan yang panjang dan berat serta keridhoan dari Allah , karena Surga adalah keberhasilan tertinggi seorang hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah :

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan mu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (QS. Ali Imran 3 :185)

Untuk itu perjuangan memperoleh surga membutuhkan kesungguhan yang optimal. Mulai dari mempelajari tauhid, memperbanyak belajar agama di majelis-majelis ilmu, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan amalan – amalan yang bisa menaikkan kita ke Surga-Nya.
Namun, kadangkala setelah kita mengetahui perkara tentang agama, kita menjadi shalih sendiri. Orang – orang di sekitar kita kurang di perhatikan dan di nasehati untuk mengingat Allah . Kadangkala kita mencari aman untuk tidak terlibat cekcok dengan keluarga kita yang masih melakukan syirik, tidak menasehati teman kita yang masih melakukan amalan bid’ah, membiarkan seseorang melakukan perbuatan munkar di depan mata kita. Naudzubillahi min dzalik

            Tidakkah kita sadari bahwa Allah memerintahkan kita untuk jangan menjadi Shalih sendirian. Sebagaimana yang di terangkan Allah dalam Al-Qur’an :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim 66 :6)
            Dalil tersebut menjelaskan kepada kita bahwa pentingnya berdakwah tidak hanya pada diri sendiri saja, melainkan juga kepada keluarga kita. Bahkan tidak sepatutnya seseorang yang mengaku Shalih namun lalai dalam menjaga keluarganya dari kobaran api neraka, tidak mendakwahi keluarganya untuk menyembah hanya kepada Allah

            Ustadz dr. Raehanul Bahraen Hafidzahullahu taa’ala memberikan poin – poin penting bagaimana seseorang bisa masuk surga bersama keluarganya :
Kita Senantiasa Belajar dan Mengajarkan Tauhid kepada Keluarga
Sebagaimana inti dakwah dari para Nabi ialah mendakwahkan Tauhid kepada manusia, karena hakekat kita hidup di dunia ini hanyalah untuk menunaikan hak – hak Allah di muka bumi  (baca: Ibadah). Sudah menjadi syarat mutlak seseorang yang ingin masuk surga yaitu dengan menjauhkan segala bentuk perhambaan kepada selain Allah ta’ala.

Jauhkan Syirik dari Keluarga
Lihatlah dakwah para orang – orang shalih terdahulu bagaimana mereka sangat menjaga tauhid kepada keluarganya dan berusaha menjauhi praktek kesyirikan. Bahkan Nabi Luqman Alaihissalam berpesan kepada anak – anak nya.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman 31 :13)

Untuk Para Ayah : “Jagalah Keluargamu dari Api Neraka”
Peran seorang Ayah di dalam keluarga sangat penting. Allah telah memberikan hak yang begitu besar kepada keluarganya. Hak tersebut sebanding dengan pertanggungjawaban yang di bebankan kepadanya di hadapan Allah .  Maka sudah sewajarnya para Ayah benar – benar memperhatikan keluarganya dari siksaan Api Neraka.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim 66 :6)

Didiklah Anak dengan baik, terutama Pendidikan Agama.
Sebagian daripada Orangtua lebih mementingkan Pendidikan Umum yang terbaik untuk masa depan anaknya, tanpa memerdulikan masa Akhiratnya. Betapa banyak orangtua khawatir apabila seorang anak telat berangkat ke Sekolah, tetapi bersikap lumrah apabila tertinggal Sholat Subuhnya.
Dan Sungguh betapa beruntungnya para Orangtua yang sejak awal mengetahui pentingnya memberikan pengajaran Agama untuk kemaslahatan anak kita. Pun pendidikan agama yang kita ajarkan maupun fasilitasi kepada Anak kita kelak biidznillah menjadi amal jariyyah bagi kita. Sebagimana sabda Nabi
“Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR.Muslim)
Bahkan anak yang senantiasa beristighfar memohonkan ampun untuk kedua Orangtuanya yang telah meninggal, maka Allah naikkan derajatnya di Surga karena amalan yang di lakukan anaknya tersebut. Rasulullah bersabda :
“Sungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga lalu dia pun bertanya, ‘Dari mana ini?’ Dijawab, ‘Karena istighfar anakmu untukmu.’” (Sunan Ibnu Majah no.3660)

Orangtua Harus Belajar Agama
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa anak dapat memberi syafa’at kepada di yaumil akhir kelak, maka orangtua pun bisa mengangkat derajat anaknya di Akhirat Kelak. Dari Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas berkata,
“Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orangtuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan.” (Ath Thuur:21) kemudian beliau berkata: dan kami tidak mengurangi dari bapak-bapak mereka apa yang kami berikan kepada anak mereka.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no.2490)
  Dalil tersebut menerangkan bahwa keberhasilan orangtua yang shalih ternyata bisa mengalirkan sikap yang shalih pula kepada anaknya. Dan sikap tersebut menjadikan seorang anak tersebut di tinggakan derajatnya di yaumil akhir kelak. Untuk itu menjadi motivasi yang besar bagi para orangtua untuk terus mempelajari Ilmu agama dan menjadi contoh teladan bagi anaknya sehingga keshalihannya pun mengalir hingga keturunannya. Allahumma Aamiin

Diambil dari kajian Ustadz dr. Raehanul Bahraen di Masjid Baitussalam, Malaysia


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply