SESI I :
“ Menggali Kemuliaan Syahrullah, Bulan Muharram”
Oleh : Ustadz Endro Setiawan, Lc.
Allah menciptakan apapun yang Allah inginkan,
dan Allah memilih yang terbaik diantara yang Allah ciptakan. Allah menciptakan banyak
Rasul dan Nabi, tapi Allah memilih yang terbaik diantara mereka. Sama halnya
dengan Allah menciptakan 12 bulan, Allah memilih 4 bulan sebagai bulan yang
paling baik. Dijelaskan
dalam surat At Taubah ayat 36
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ
اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتٰبِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ
وَالْأَرْضَ مِنْهَآ
أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذٰلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا
تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقٰتِلُوا
الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً
كَمَا يُقٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَاعْلَمُوٓا
أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya jumlah bulan
menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada
waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram.
Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam
(bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana
mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta
orang-orang yang takwa." (QS.
At-Taubah 9: Ayat 36)
Bulan haram adalah bulan yang dimuliakan, bulan yang di hormati. Diantara 4 bulan haram tersebut, yang paling mulia adalah bulan Muharram. Kemuliaan-kemuliaan di bulan Muharram diantaranya adalah
a. Bulan Muharram disebut Syahrullah yaitu bulan nya Alla
b. Bulan yang lansung disandarkan kepada Allah
c. Terdapat peristiwa-peristiwa diantaranya Allah menerima taubat nabi Adam ‘Alaihissalam, Allah menyelamatkan nabi Musa ‘Alaihissalam dari kejaran fir'aun, dan Hijrahnya Rasul dari Mekah ke Madinah.
Amalan yang ditekankan di bulan Muharram
Amalan sholih yang diperintahkan
saat itu adalah berpuasa. Selain itu terdapat anjuran
untuk memperbanyak puasa di bulan haram. Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam mendorong kita melakukan puasa pada bulan Muharram
sebagaimana sabdanya,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ
اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ
اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan
adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama
setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu
Hurairah).
Dari sekian
hari di bulan Muharram, yang lebih afdhol adalah
puasa hari ‘Asyura, yaitu pada 10 Muharram. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ «
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ
يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai
keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa
setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai
keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa
setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).
Namun dalam rangka menyelisihi Yahudi, kita diperintahkan
berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu berpuasa pada hari kesembilan (tasu’a).
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari
’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada
yang berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ
الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan
oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ
شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah
menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas
mengatakan,
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى
تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Belum sampai tahun depan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)
Sebagian ulama
mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa
pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai)
orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu
Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa
hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’
(tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari
kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih
kuat. Wallahu
a’lam.



No comments: