Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
bagaimana kabar para Ukhti dan Akhi?
Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Aamiin.
Tidak
terasa saat ini kita sedang berada di penghujung tahun 2023, dan sebentar lagi
akan memasuki tahun 2024. Seperti setiap tahunnya, momentum menuju tahun baru
selalu hadir dengan penuh kemeriahan dan
berbagai perayaan. Saat malam
tahun baru Masehi biasanya para muda-mudi mengadakan berbagai pesta.
Diantaranya ada yang bergadang untuk menunggu jam 00.00 tiba. Kemudian setelah
waktunya telah tiba mereka bergembira dan serentak meniup terompet dan berpesta
kembang api. Fenomena ini merupakan kejadian
yang berulang setiap tahunnya. Bahkan, setiap tahunnya semakin bertambah semarak. Lalu bagaimanakah cara menyikapi tahun baru masehi
bagi umat Islam?
Apakah Boleh
Merayakannya?
Tahun
baru bukanlah hari raya umat Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, atau hari
Jumat. Dilihat dari sejarah asal usulnya, tahun baru pertama kali
dirayakan pada tanggal 1 Januari 45
Sebelum Masehi oleh orang-orang kafir. Artinya perayaan ini tidak berasal dari
Islam. Merayakan tahun baru berarti mengikuti perayaan orang kafir, inilah
namanya tasyabbuh. Tasyabbuh pada perayaan orang kafir itu terlarang.
Kalau
sudah terbukti bahwa perayaan itu hanyalah tradisi orang kafir, lalu kita
dilarang tasyabbuh (meniru) tradisi mereka, maka merayakannya pun tak perlu.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ
أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ
» . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ
النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
Artinya:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya
sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
“Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab,
“Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari no. 7319)
Dari
‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
Artinya : “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Ada beberapa keburukan yang ditimbulkan ketika merayakan tahun baru diantaranya yaitu:
1. Salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
2. Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
3. Ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina.
4. Pemborosan harta, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli petasan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya. Wallahu a’lam…
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam:
1. Meninggalkan atau tidak Ikut-ikutan dalam Perayaan
Salah satu cara paling utama dalam menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam adalah, meninggalkan perayaan tersebut dan tidak larut dalam momen perayaan pergantian tahun. Cara ini merupakan cara paling aman agar tidak terjerumus ke dalam maksiat yang merajalela saat perayaan tahun baru.
2. Membiarkan orang kafir merayakannya dan tidak memancing keributan
Cara kedua menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam adalah membiarkan orang kafir merayakannya. Ini merupakan sikap toleransi dimana seorang muslim tidak ikut campur, tidak melarang kaum kafir, dan tidak melakukan hal-hal yang dapat memancing keributan dan kerusakan.
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kaafirun 109:06
Dalam ayat lain Allah subḥānahu wa ta’ālā juga berfirman,
أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
Artinya:“Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus 10: 41)
Allah subḥānahu wa ta’ālā juga befirman,
لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ
Artinya:“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al-Qashash 28: 55)
3. Memohon perlindungan supaya terhindar dari fitnah tahun baru
Setelah segala bentuk usaha dan ikhtiar dilakukan, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan sebagai seorang muslim adalah berdoa.
Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah doa memohon perlindungan dari siksa neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan fitnah setelah mati, serta dari kejahatan finah Dajjal.
Berikut adalah doanya,
Sumber:
1. https://muslimah.or.id/172-menyikapi-tahun-baru-masehi.html
2. https://rumaysho.com/26065-hukum-merayakan-tahun-baru.html
3. https://rumaysho.com/9967-tahun-baru-perayaan-orang-kafir-yang-diikuti-umat-islam.html



No comments: