Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» » » Menjaga Semangat Ibadah tetap Istiqomah Setelah Ramadhan

 
     Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh ikhwah sekalian. Alhamdulillah, sudah sepantasnya kita bersyukur atas banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita dari awal kehidupan hingga saat ini. Terutama di tahun ini kita telah diberikan kesempatan untuk berjumpa kembali di bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan. Semoga amalan-amalan ibadah kita dirahmati dan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala Aamiin Aamiin yaa Mujiibassailiin. 

         Saat ini bulan Ramadhan telah berlalu beberapa hari, bagaimana kabar ibadah kita? Semoga tetap semangat ya. Jangan sampai dengan berlalunya bulan Ramadhan ini menjadikan semangat kita dalam beribadah pun ikut berlalu. Dan kemudian kini kita telah memasuki babak baru yaitu bulan Syawal. Dan pembahasan kita kali ini mengenai bagaimana upaya agar semangat ibadah kita tetap istiqomah setelah Ramadhan berlalu serta amalan-amalan yang dapat dilakukan di bulan Syawal ini.
     
       Kunci penting agar semangat ibadah di bulan Ramadhan tetap berkobar yaitu adanya niat yang besar sehingga jiwa merasa tenang dan terjaga dari perbuatan buruk. Berikut merupakan beberapa cara agar semangat ibadah tetap terjaga setelah Ramadhan, yaitu:
1. Membaca Al-Qur’an setiap hari
   Membaca Al-Qur’an merupakan amalan baik yang tidak terlewat di bulan Ramadhan. Bahkan beberapa diantaranya dapat mengkhatamkan lebih dari sekali selama satu bulan. Nah, membaca Al-Qur’an dapat menjadi salah satu jalan agar semangat ibadah tetap istiqomah. Yang diperlukan yaitu konsistensi dan keistiqomahan dalam menjalankannya, tidak mengapa membaca Al-Qur’an dua    halaman dalam sehari asalkan konsisten. Nah, apabila hal ini dilakukan terus-menerus setiap hari  maka insyaaAllah dapat istiqomah bahkan menambah intensitas bacaan di setiap harinya. Selain itu, tentunya diri kita pun terjaga lisannya karena selalu dekat dengan firman-Nya.
 
2. Berdo’a dengan Ikhlas setiap hari
    Kiat lainnya dalam menjaga semangat ibadah yaitu dengan berdo’a setiap hari. Allah Subhanahu wa   ta’ala berfirman:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ             
    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
    Dalam firman Allah tersebut dijelaskan bahwa Allah akan mengabulkan do’a setiap hamba-hamba Nya. Sehingga setiap berjumpa bulan Ramadhan tentunya kita terbiasa berdo’a memohon ampunan kepada Allah. Nah, kemudian setelah bulan Ramadhan berlalu pun tentunya kita dapat mencoba membiasakan diri berdo’a kepada Allah dengan ikhlas, mencurahkan perasaan kepada-Nya serta memohon dengan sungguh-sungguh diikuti dengan ikhtiar kita kepada-Nya.
 
3. Teruslah beramal baik
    Kiat selanjutnya yaitu dengan terus menebarkan kebaikan. Karena dengan beramal baik, maka hal itu menunjukkan rasa syukur kita atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Beramal baik tidak harus dengan harta yang berjumlah besar, akan tetapi berapapun jumlah yang dapat kita berikan kepada sesama yang membutuhkan itu akan sangat berarti bagi mereka. Beramal yang baik pun tidak selalu harus dalam bentuk yang besar, namun bisa dimulai melalui hal-hal kecil seperti saling membantu sesama yang membutuhkan pertolongan.
    Allah pun berjanji akan melipatgandakan rezeki bagi siapa saja yang beramal karena Allah Subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً ۗوَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
   “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan  hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245).
   Kemudian setelah pembahasan mengenai kiat-kiat dalam menjaga semangat ibadah tetap istiqomah setelah ramadhan, maka pembahasan kita selanjutnya mengenai amalan di bulan Syawal yang utama     yaitu puasa Syawal.
      Dari Abu Ayyub Al-Anshary radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ        
     “Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal,  maka itu seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164).  
      Dalil ini dinyatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah adalah dalil yang shahih dan sharih (tegas).  
 
      Terdapat beberapa pelajaran dari amalan puasa Syawal ini, diantaranya yaitu:
1. Puasa Syawal akan menggenapkan pahala berpuasa setahun penuh
Seperti yang telah disebutkan dalam hadis riwayat Muslim di atas, maka diantara hikmah adanya puasa Syawal ini yaitu menggenapkan puasa seperti berpuasa setahun penuh. Karena, menurut para ulama asalnya adalah setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:56).
 
2. Melaksanakan puasa Syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup 
    kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib
Maksudnya adalah bahwa puasa Syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada saat puasa wajib di bulan Ramadhan, sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Pastinya kita seringkali melakukan kesalahan sehingga memiliki kekurangan saat di bulan Ramadhan, walaupun pasti ada kekurangan yang meski disempurnakan.
 
3. Melakukan puasa Syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan 
Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada 
amalan sholih selanjutnya, diantaranya puasa enam hari di bulan Syawal. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf.

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
 “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara baasan kejelekan adalah              kejelekan selanjutnya.
 
4. Melaksanakan puasa Syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah Subhanahu wa ta’ala 
Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika beliau ditanya oleh istri tercinta yaitu Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,

أَفَلاَأُحِبُّأَنْأَكُونَعَبْدًاشَكُورً
“Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?
 
5. Melaksanakan puasa Syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu atau berkelanjutan dan 
    bukan musiman saja 
Mari perhatikan perkataan Ibnu Rajab berikut, “Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 393).
 
Sumber :
Tuasikal, Muhammad Abduh. (2021). “Khutbah Jumat: Fikih Ringkas Puasa Syawal” dalam https://rumaysho.com/28352-khutbah-jumat-fikih-ringkas-puasa-syawal.html. Diakses pada 18 Mei 2021.
Sabiila, Syahidah Izzata. (2020). “6 Cara Agar Semangat Ibadah Setelah Ramadhan Tetap Terjaga” dalam https://m.dream.co.id/news/6-cara-agar-semangat-ibadah-setelah-ramadhan-tetap-terjaga-200513u.html. Diakses pada 18 Mei 2021.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply