Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» » » » » » Kejujuran, Salah Satu Kiat Menuju Selamat


 Kejujuran, Salah Satu Kiat Menuju Selamat

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar ikhwah sekalian?

Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya.

Pada kesempatan kali ini kejujuran menjadi topik utama yang akan dibahas. Seperti yang telah kita ketahui bahwa perilaku jujur merupakan salah satu perbuatan yang sangat mulia. Dalam melakukan perbuatan, sebisa mungkin kita harus lakukan dengan cara yang jujur. Sayang nya, di era modern ini nilai-nilai kejujuran sudah mulai meluntur. Bagaimana cara agar selalu Istiqomah bersikap jujur di zaman yang modern ini?

 

Di dalam beberapa ayat, Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk berlaku jujur. Di antaranya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119)

Selain itu dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

“Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Dalam hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah bersabda,

 

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut. Jujur merupakan alamat keislaman dan tanda kesempurnaan bagi pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.

Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah. Seorang yang beriman dan jujur, Tidak akan berdusta dan tidak akan  berbicara kecuali kebaikan.

Adapun macam-macam kejujuran dapat dibagi menjadi :

  1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Suatu amal yang tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. Sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan.
  2. Jujur dalam ucapan. Hal ini wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
  3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Allah Ta’ala  berfirman yang artinya “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)
  4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin.
  5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat serta akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya.

Orang yang tidak mau bersikap jujur dan lebih memilih berdusta tentu akan mendapatkan kerugian. Dusta adalah dosa dan ‘aib yang amat buruk. Di samping berbagai dalil dari Al Qur’an dan berbagai hadits, umat Islam bersepakat bahwa berdusta itu haram. Di antara dalil tegas yang menunjukkan haramnya dusta adalah hadits berikut ini :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khianat terhadap amanah.”(HR. Bukhari no. 2682 dan Muslim no. 59, dari Abu Hurairah)

Dari berbagai hadits terlihat jelas bahwa sikap jujur dapat membawa pada keselamatan, sedangkan sikap dusta membawa pada jurang kehancuran. Kehancuran yang disebabkan oleh perbuatan dusta dapat dirasakan baik ketika masih di dunia maupun di akhirat.

 

Sumber :

  1. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. 2010. “Berlakulah Jujur” (online), (https://rumaysho.com/1263-berlakulah-jujur.html, diakses tanggal 23 Juni 2021 ).
  2. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. 2008. “Jujur, Kiat Menuju Selamat” (online), (https://muslim.or.id/38-jujur-kiat-menuju-selamat.html, diakses tanggal 23 Juni 2021).
  3. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. 2011. “Mencari Orang yang Jujur itu Sulit” (online), (https://rumaysho.com/1873-mencari-orang-yang-jujur-itu-sulit.html, diakses tanggal 23 Juni 2021 ).

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments: