Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar Ikhwah fillah?
Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Aamiin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, Kaum Ibrahim, Penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. At-Taubah: 70)
Telah banyak pesan suci yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada umat manusia melalui utusan-utusan-Nya dan ayat di atas merupakan salah satunya. Beberapa umat manusia telah menerima pesan ini namun beberapa yang lain telah mengingkarinya. Bahkan pada zaman nabi, ada suatu kaum yang tidak hanya mengabaikan pesan suci yang disampaikan namun mereka juga melakukan perbuatan keji kepada para pembawa pesan dan para pengikutnya. Diantaranya bahkan ada pembawa pesan yang dituduh serta difitnah sebagai “pembohong, sihir, orang yang sakit gila dan penuh dengan kesombongan, serta bahkan ada yang berusaha untuk dibunuh”. Hal utama yang diinginkan oleh para nabi dari kaumnya adalah kepatuhan mereka kepada Allah. Dan mereka juga tidak memaksa; mereka hanya mengajak kaumnya kepada agama yang haq.
Dan apa yang telah terjadi antara Nabi Syu’aib dan kaum Madyan, dimana beliau diutus menggambarkan hubungan antara nabi dengan kaumnya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Masyarakat Madyan merupakan salah satu contoh masyarakat di zaman dahulu yang mengingkari kebenaran dari Allah yang dibawa melalui utusan-Nya yaitu Nabi Syu’aib, sehingga akhirnya Allah hukum dan binasakan.
Kejahatan yang dilakukan oleh penduduk Madyan tidak hanya melakukan kesyirikan namun juga berbuat curang dalam timbangan, melakukan kecurangan dalam bermuamalat serta mengurangi hak orang lain. Nabi Syu’aib telah mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah serta mengingatkan kaumnya tentang rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka sehingga mereka tidak perlu sampai menzalimi manusia dalam urusan harta. Namun mereka justru menyambutnya dengan penolakan yang disertai dengan ejekan.
قَالُوْا يٰشُعَيْبُ اَصَلٰوتُكَ تَأْمُرُكَ اَنْ نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَآ اَوْ اَنْ نَّفْعَلَ فِيْٓ اَمْوَالِنَا مَا نَشٰۤؤُا ۗاِنَّكَ لَاَنْتَ الْحَلِيْمُ الرَّشِيْدُ
“Mereka berkata, ‘wahai Syu’aib! Apakah shalatmu (agamamu) menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Hud: 87)
Makna dari perkataan mereka yaitu bahwa mereka akan tetap bertahan menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang mereka. Dan mereka akan tetap berbuat terhadap harta mereka dengan berbagai bentuk muamalat yang mereka inginkan dan tidak berada di bawah ketetapan Allah dan para rasul-Nya.
Mendengar jawaban dari kaumnya, Nabi Syu’aib memberikan peringatan berupa siksaan yang pernah menimpa umat-umat di sekitar mereka. Bahkan beliau juga menawarkan kepada mereka agar bertaubat. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’aalaa,
وَاسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ رَحِيْمٌ وَّدُوْد
“Dan mohonlah ampunan kepada Rabb kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-Ku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90)
Namun seruan itu tidak berfaidah sedikitpun karena sikap keras kepala dan kebencian terhadap kebenaran yang mereka miliki. Sehingga kemudian Allah mengirimkan rasa panas yang hebat kepada mereka yang menyumbat pernapasan hingga mereka tercekik karena dahsyatnya dan akhirnya mereka pun mati dalam keadaan mendapat adzab, kehinaan dan kutukan sepanjang masa.
Sehingga berdasarkan kisah dari kaum Madyan di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran di dalamnya, antara lain:
- Berbuat kecurangan dalam timbangan dan takaran merupakan perbuatan buruk yang pantas menerima adzab di dunia dan akhirat.
- Seorang manusia dalam setiap gerak-geriknya dan dalam bermuamalat tentunya harus berada di bawah ketentuan hukum syariat. Maka barang siapa yang beranggapan bahwa ia bebas berbuat terhadap hartanya serta tidak terikat aturan syariat maka berarti ia telah melakukan penyimpangan dari agama Allah.
- Shalat merupakan tiang agama dan menjadi sebab terlaksananya suatu kebaikan serta mencegah dari perbuatan keji, sehingga barang siapa yang meninggalkan maka itu suatu kemungkaran.
- Kita harus bersyukur dengan rezeki yang diberikan Allah, sehingga akan merasa cukup dengan yang halal dan menjauhi yang haram.
Sumber:
Kisah Muslim. “Mendulang Faidah dari Kisah Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam” dalam https://kisahmuslim.com/148-mendulang-faidah-dari-kisah-nabi-syuaib-alaihissalam.html. Diakses pada 26 September 2021.


No comments: