Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» » » » Salah Satu Naungan dari Segala Naungan Allah ialah Pemuda

 


Salah Satu Naungan dari Segala Naungan Allah ialah Pemuda


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar ikhwah semuanya?
Semoga kita senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Aamiin.

Pada kesempatan kali ini membahas tentang salah satu naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu pemuda. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa pemuda mempunyai peran penting sebagai penerus, harapan, sekaligus masa depan Islam. Pada era sekarang dengan adanya kecanggihan teknologi yang semakin maju sehingga pemuda diharapkan dapat membuat berbagai perubahan yang baik kedepannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya) :

وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ
“Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Dari hadis tersebut sudah jelas dikatakan bahwa pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah adalah salah satu golongan yang dinaungi Allah. Pemuda yang aktif dalam segala bidang sosial, politik, budaya, ekonomi, harus diimbangi dengan beribadah kepada Allah. Dengan demikian pemuda tersebut dapat dikatakan sebagai pemuda harapan kebangkitan Islam. 

Di zaman sekarang, tidak sedikit kita jumpai pemuda yang menyimpang dari ajaran Islam seperti Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat), tidak menutup auratnya, waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia, senangnya pacaran hingga berzina, pemuda malas berjamaah di masjid, atau kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama). Oleh karena itu, untuk mengurangi perilaku tersebut diperlukan penanaman kesadaran dalam diri, memperbanyak ibadah kepada Allah.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Subhanahu wa Ta’ala mengagumi pemuda yang istiqamah berada jalan Allah. Terlebih di era teknologi. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ
“Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi). 

Para pemuda seharusnya menjauhi maksiat sejak muda, karena Allah memberikan balasan dengan menjaga kita di masa tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah menasehati seorang sahabat yang kala itu usianya 12 tahun, yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memegang pundaknya lalu bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416). 

Begitulah nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia. Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224).

Melakukan lima perkara sebelum datang lima perkara. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir).

Salah satu lima perkara tersebut dikatakan bahwa waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya ialah lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta. waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia. 

Demikian pembahasan mengenai sosok yang dijanjikan oleh Allah dimana ia akan mendapatkan naungan-Nya di hari akhir nanti, yaitu pemuda. Dan kita sebagai seorang pemuda, semoga tetap menjaga rasa istiqomah sebagai wujud usaha dalam menyebarkan agama Islam meskipun di era digitalisasi yang semakin maju dan berkembang.


Sumber: 
  1. Tuasikal, Muhammad Abduh. (2018). “Khutbah Idul Fitri: Pemuda Pemberani, Saat ini Engkau di Mana?” dalam https://rumaysho.com/17620-khutbah-idul-fitri-pemuda-pemberani-saat-ini-engkau-di-mana.html. Diakses pada tanggal 3 September 2021.
  2. Tuasikal, Muhammad Abduh. (2010). “Masa Muda, Waktu Utama Beramal Sholeh” dalam https://rumaysho.com/240-masa-muda-waktu-utama-beramal-sholeh.html. Diakses pada tanggal 3 September 2021.
  3. Tim Media UISI. (2021). “Peran Generasi Z di Era Milenial Menurut Sudut Pandang Islam” dalam https://uisi.ac.id/read/peran-generasi-z-di-era-milenial-menurut-sudut-pandang-islam. Diakses pada tanggal 3 September 2021.  

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply