Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar ikhwan dan akhwat sekalian?
Semoga kita senatiasa dalam keadaan sehat walafiyat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..
Tujuan Manusia Diciptakan
Semoga kita senatiasa dalam keadaan sehat walafiyat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..
Tujuan Manusia Diciptakan
Manusia merupakan makhluk Allah Subhanahu wa ta'ala dengan sebaik-baiknya bentuk. Selain itu, ia memiliki kualitas sebagai khalifah di bumi, sebagai seseorang yang dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman.
Allah Subhanahu wa ta'ala juga telah berfirman,
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
Dari ayat di atas telah menjelaskan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah hanya menyembah-Nya. Pada ayat tersebut juga menyiratkan pentingnya beramal, setelah tujuan pertama manusia diciptakan yaitu berilmu. Maka buah dari ilmu adalah beramal. Tidaklah ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan.
Definisi Keimanan
Allah Subhanahu wa ta'ala juga telah berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Dari ayat di atas telah menjelaskan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah hanya menyembah-Nya. Pada ayat tersebut juga menyiratkan pentingnya beramal, setelah tujuan pertama manusia diciptakan yaitu berilmu. Maka buah dari ilmu adalah beramal. Tidaklah ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan.
Definisi Keimanan
Suatu waktu Bani Asad menemui Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kemudian menyatakan diri bahwa mereka telah beriman kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Ketika itu pula turunlah wahyu,
Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:14)
Secara bahasa iman adalah membenarkan apapun yang dibawa oleh Rasul dari Rabbnya. Iman meliputi perkataan dan perbuatan yang dapat bertambah atau berkurang. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan.
Sedangkan secara istilah, iman adalah perkataan dengan lisan, keyakinan dalam hati, amalan dengan anggota badan. Manusia belum dikatakan beriman kecuali dengan ucapan. Tidak manfaat ucapan kecuali dengan beramal. Tidak amalan kecuali menjalankan apa yang disunnahkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Ketiga hal ini saling melazimkan dan saling terkait.
Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda, "Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rasulnya." (HR Muslim).
Manusia dan Dunia yang Fana
قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Secara bahasa iman adalah membenarkan apapun yang dibawa oleh Rasul dari Rabbnya. Iman meliputi perkataan dan perbuatan yang dapat bertambah atau berkurang. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan.
Sedangkan secara istilah, iman adalah perkataan dengan lisan, keyakinan dalam hati, amalan dengan anggota badan. Manusia belum dikatakan beriman kecuali dengan ucapan. Tidak manfaat ucapan kecuali dengan beramal. Tidak amalan kecuali menjalankan apa yang disunnahkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Ketiga hal ini saling melazimkan dan saling terkait.
Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda, "Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rasulnya." (HR Muslim).
Manusia dan Dunia yang Fana
Di sisi lain, manusia terus-menerus mengejar dunia dan perhiasannya, bagaikan seseorang yang kehausan di tengah jalan yang begitu terik dengan matahari. Dia menyangka ada air di tempat tersebut namun ketia ia mendekat, hanya ada kekecewaan dan penyesalan yang didapatkan.
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut:64)
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan : “Sejak diciptakan, manusia terus-menerus menjadi musafir yang tidak berhenti dari perjalanan panjangnya, kecuali di surga atau di neraka. Orang yang berakal mengetahui bahwa safari penuh dengan berbagai kesulitan dan cobaan. Adalah mustahil kelezatan, kenikmatan dan kebahagiaan hakiki itu didapat sebelum sampai kepada tempat tujuan”. (Al-Fawa’id)
Seperti juga yang dikatakan oleh Bilal bin Sa’ad rahimahullah : “Wahai orang-orang yang bertakwa, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk kefanaan (dunia), yang kalian alami hanyalah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sebagaimana kalian telah pindah dari tulang rusuk ke rahim sang ibu, dari rahim ibu ke dunia, dari dunia menuju kuburan, dari kuburan menuju Mahsyar, dan dari Mahsyar menuju kekekalan di Surga atau Neraka.”
(As-Siyar V/91)
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma lantas berkata,
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan : “Sejak diciptakan, manusia terus-menerus menjadi musafir yang tidak berhenti dari perjalanan panjangnya, kecuali di surga atau di neraka. Orang yang berakal mengetahui bahwa safari penuh dengan berbagai kesulitan dan cobaan. Adalah mustahil kelezatan, kenikmatan dan kebahagiaan hakiki itu didapat sebelum sampai kepada tempat tujuan”. (Al-Fawa’id)
Seperti juga yang dikatakan oleh Bilal bin Sa’ad rahimahullah : “Wahai orang-orang yang bertakwa, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk kefanaan (dunia), yang kalian alami hanyalah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sebagaimana kalian telah pindah dari tulang rusuk ke rahim sang ibu, dari rahim ibu ke dunia, dari dunia menuju kuburan, dari kuburan menuju Mahsyar, dan dari Mahsyar menuju kekekalan di Surga atau Neraka.”
(As-Siyar V/91)
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma lantas berkata,
“Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416)
Hadits di atas mengajarkan bahwa dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya.
Kehidupan Setelah Dunia
Hadits di atas mengajarkan bahwa dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya.
Kehidupan Setelah Dunia
Di antara rukun iman yang wajib diimani oleh seorang muslim adalah beriman kepada hari Akhir. Disebut hari akhir karena tidak ada lagi hari setelahnya. Setiap manusia akan mengalami tahapan dalam kehidupan, fase kandungan, alam dunia, alam barzakh dan kehidupan akhirat yang menjadi kehidupan kekal (surga dan neraka).
Hari akhir, itulah hari di mana merupakan hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi pada saat di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan.
Hari akhir, itulah hari di mana merupakan hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi pada saat di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,”Surga itu disediakan bagi orang-orang sholih, kenikmatan di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pula pernah terlintas dalam hati. Maka bacalah jika kalian menghendaki firman Allah Subhanahu wa ta'ala (yang artinya),”Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah [32] : 17) (HR. Bukhari & Muslim)
Sedangkan kehidupan di neraka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,”Panas api kalian di dunia hanya 1/70 bagian dari panas api jahannam.” (HR. Bukhari). Subhanallah!! Berarti sangat dahsyat sekali siksaan di dalamnya.
Begitulah gambaran manusia menjalani kehidupan, melewati beberapa fase hingga mereka menuju tempat persinggahan yang kekal. Kehidupan di dunia hanya sebagai perantara, untuk memperbanyak amal salih yang menjadi bekal di akhirat kelak. Maka dari itu, manfaatkan kehidupan di dunia ini sebaik mungkin, agar tak ada penyesalan di kemudian hari.
Wallaahu A'lam Bishawab
Sumber:
1. https://muslimah.or.id/8140-belaian-dunia-goyahkan-iman.html
2. https://rumaysho.com/20293-syarhus-sunnah-iman-itu-perkataan-dan-perbuatan.html
3. https://muslim.or.id/1839-memperkokoh-keimanan-pada-allah.html
4. https://muslimah.or.id/7109-2-tujuan-penciptaan-manusia.html
5. https://rumaysho.com/392-hari-akhir-tahapan-akhir-kehidupan-manusia.html
Sedangkan kehidupan di neraka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,”Panas api kalian di dunia hanya 1/70 bagian dari panas api jahannam.” (HR. Bukhari). Subhanallah!! Berarti sangat dahsyat sekali siksaan di dalamnya.
Begitulah gambaran manusia menjalani kehidupan, melewati beberapa fase hingga mereka menuju tempat persinggahan yang kekal. Kehidupan di dunia hanya sebagai perantara, untuk memperbanyak amal salih yang menjadi bekal di akhirat kelak. Maka dari itu, manfaatkan kehidupan di dunia ini sebaik mungkin, agar tak ada penyesalan di kemudian hari.
Wallaahu A'lam Bishawab
Sumber:
1. https://muslimah.or.id/8140-belaian-dunia-goyahkan-iman.html
2. https://rumaysho.com/20293-syarhus-sunnah-iman-itu-perkataan-dan-perbuatan.html
3. https://muslim.or.id/1839-memperkokoh-keimanan-pada-allah.html
4. https://muslimah.or.id/7109-2-tujuan-penciptaan-manusia.html
5. https://rumaysho.com/392-hari-akhir-tahapan-akhir-kehidupan-manusia.html



No comments: