Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» »Unlabelled » Muslih, Pilihan atau Kewajiban? (Karya Pemenang Challange Workshop Kepenulisan)

Karya    : Subulu Salam


Menjadi Muslim yang Sejati

Menjadi seorang muslim yang sejati, seharusnya tidak membatasi diri kita hanya pada sifat sholih saja, tapi melainkan juga dengan bersamaan sifat muslih. Muslim sholih sekaligus dengan Muslim muslih.

Apa Perbedaannya?

Apa sih maksud dari muslih itu sendiri? Dan apa perbedaanya? Muslih adalah salah satu tingkatan diatas sholih, mengapa demikian? Karena kita ga akan bisa menjadi muslih tanpa melewati sholih terlebih dahulu. Nah, ibarat nih, Di game itukan ada tingkatan level-levelnya, level 1, level 2, dan seterusnya. Kan kalo kita udah selesai semua stage di level 1 atau level kita saat ini maka kita akan lanjut naik ke tahap kedua, atau level kedua. Sama halnya dengan sholih muslih tadi. Kita ga cukup kalau hanya sholih saja, kita harus upgrade diri kita ke tahapan muslih

Muslih menurut Imam Ibnu Rajab

Sholih itu ada dua, yang pertama shalih li nafsihi, sholih untuk dirinya sendiri. Dan yang kedua shalih li nafsihi wa shalih li ghoirihi, sholih untuk dirinya dan berusaha menebar energi kesholihan pada diri orang lain. Merasa dirinya ikut andil, terbebani untuk menjadikan orang sholih seperti dirinya, ikut memperbaiki yang rusak, meluruskan apa yang bengkok, dan ikut membersihkan apa yang kotor. Maka itulah semua yang disebut dengan muslih.

Pentingnya Menjadi Muslih

Mengapa demikian? Emang kalo ga muslih kenapa? Apa alasan seseorang itu menjadi muslih? Muslih merupakan bagian yang ga akan terpisahkan pada kehidupan kita. Islam sendiri ga cukup hanya dengan shalat, zakat, puasa, dan kemudian ditutup dengan haji ke baitullah, selesai. Ga gitu, melainkan kita harus berkontribusi untuk ikut menegakkan setinggi-tingginya Agama Allah, bantu dengan sesuai kemampuan kita masing-masing. Ada ceramah, kita bantu konsumsinya, kita bantu rapikan sandalnya, bantu merapikan parkirnya, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Seperti halnya dengan profesi, pekerjaan kita. Silahkan saja untuk menjadi apa saja asalkan masih dalam koridor lingkup yang halal, maka apapun itu kembalilah ke Islam. Jadi dokter, pengusaha, petani, semuanya Kembali ke Islam, maksudnya apa? Semuanya berjuang untuk tegaknya Agama Allah ta’ala.

Ancaman Bagi yang Bodo Amat

Allah ta’ala berfirman :

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Artinya : Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Q.S. Al-Anfal : 25)

Ternyata bukan main-main, Allah sudah jelaskan, bahwasanya sholih tidak cukup, apalagi diiringi dengan sikap bodo amat, acuh tak acuh dengan sekitar. “Yang berbuat kezhaliman mereka, yang nanggung harusnya mereka, kenapa kita capek mikir-mikir mereka? Kita fokus pada diri kita saja.” Padahal Adzab Allah adalah universal, berdasarkan Surah Al-Anfal tadi jika suatu kaum terang-terangan dalam bermaksiat dan tidak ada amar makruf nahi munkar di dalamnya, maka Allah akan turunkan adzab bagi mereka

Muslih Adalah Sifat Para Nabi dan Sahabatnya

Jikalau nabi hanya mengajarkan sholih kepada para sahabatnya, entah-entah kita ga akan merasakan manisnya islam, karena para sahabat tidak peduli dengan perbaikan atau penyebaran islam. Tapi, nabi didik mereka dengan menjadi muslih yang berkontribusi untuk Agama Islam sesuai dengan kemampuan mereka, karena mereka tau agama butuh yang muslih bukan hanya dengan sholih.

Muslih Menurut Ibnu Qudamah

الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.

Orang baik (sholih), melakukan kebaikan untuk dirinya.

Sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan utk dirinya dan orang lain.

الصالح تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .

Orang baik, dicintai manusia..

Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..

لماذا

Kenapa?

الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح .

Rosululloh ﷺ sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik..

ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.

Namun ketika Allah ta'ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya; Tukang sihir, Pendusta, Gila..

ما السبب ؟

لأن المصلح يصطدم بصخرة

أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم

Apa sebabnya?

Karena Penyeru Kebaikan 'menyikat' batu besar nafsu dan memperbaikinya dari kerusakannya

ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة.

Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar bersabar ketika melakukan islah, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan..

( يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك )

Hai anakku tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu..

قال أهل الفضل والعلم : مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين

Ahli ilmu berkata:

Satu penyeru kebaikan (muslih) lebih dicintai Alloh daripada ribuan orang baik (sholih)

لأن المصلح يحمي الله به أمة ،والصالح يكتفي بحماية نفسه .

Karena melalui penyeru Kebaikan itulah Allah jaga umat ini

Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri

فقد قال الله عزَّ و جلَّ في محكم التنزيل

Allah azza wa jalla berfirman :

( وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُون َ)

"Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan satu negeri dengan zalim padahal penduduknya adalah penyeru kebaikan"_

ولم يقل صالحون

Alloh tidak berfirman;

"Orang Baik (Sholih)"

كونوا مصلحين ولا تكتفوا بأن تكونوا صالحين.

Maka jadilah kita penyeru kebaikan (muslih), dan jangan merasa puas hanya sebagai orang baik saja (sholih)


Tetap Berdakwah Walaupun itu Pahit

“Gak takut kaburo maqtan bos?” Pertanyaan yang terlontar mungkin dari salah satu teman, seusai menyampaikan pesan atau nasihat. Seketika marah, sedih dan takut tercampur menjadi satu, marah karena mereka hanya tahu dengan comment, sedih karena teman sendiri yang bilang, dan takut karena memang benar adanya ancaman bagi siapa saja yang menyampaiakan sesuatu tapi tidak mengerjakan. Lantas bagaimana sikap yang tepat? Menurut pandangan penulis, firman Allah ta’ala yang turun jelas tidak ada yang melemahkan kita apalagi melemahkan syariat. Jika saja semua orang memahami ayat tersebut hanya lafadznya saja, maka amar makruf nahi munkar niscaya tidak akan ada di muka bumi ini, karena kita semua sadar kita adalah manusia, yang mana tidak mungkin lepas dari kesalahan, kecuali para nabi dan rasul a’laihim shalaatu was salam, karena Allah jamin mereka dari kesalahan. Maka maksud yang tepat adalah bahwasanya firman Allah tersebut merupakan sebagai pengingat kita, batas kita. Kita masih berusaha bukan enggan, berupaya agar selalu senantiasa di koridor syariat, bukan memang pada dasarnya kita sudah tolak lantas kita suruh orang lain agar melakukannya. Mengingatkan diri agar senantiasa berbuat baik, karena kita takut dengan ancaman tersebut, bukan lantas tidak berbuat apa-apa.

Pepatah arab mengatakan “Quuli al-haq walau kaana murron.” Tetap sampaikan yang benar walau itu pahit. Sahabat Rasulullah yang bernama Anas r.a. telah bertanya kepada Rasul, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerintahkan kepada kebaikan agar kami dapat mengerjakan semuanya, dan bolehkah kami mencegah kemungkaran agar kami agar menghindari semuanya?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan perintahkanlah kepada kebaikan, meskipun kamu masih belum mengamalkan keseluruhannya dan cegahlah kemungkaran meskipun kamu masih belum dapat menghindari seluruhnya.”

Wallahu A’lam bis Showab

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply