Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

» » » » » » » » » » » » Bahaya Sifat Was-Was



Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar ikhwan dan akhwat sekalian?

Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat walafiat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Ikhwan dan akhwat sekalian sebagai manusia biasa yang jauh dari kata sempurna pasti kita pernah atau bahkan sering merasakan was-was. Lalu bagaimana penuturan was-was menurut islam dan bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Apa itu was-was?

Dalam islam was-was merupakan godaan syaitan kepada manusia. Waswas atau waswasah adalah bisikan jiwa dan setan yang tidak mengandung manfaat dan kebajikan juga tidak dilandaskan pada keyakinan dasar. Was-was merupakan penyakit yang berbahaya karena penghilang khusyuk paling dominan apalagi pada saat akan beribadah.

Sebagaimana dijelaskan dalam surah An-Nas ayat 1-5 yang artinya:

“Katakanlah, aku berlindung kepada tuhannya manusia. Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Begitupun, jika kita mengalami sifat was-was ini kita harus berusaha keras untuk melawannya, dalam artian harus berlaku cuek atas kewas-wasan kita akan suatu hal.

Dampak Buruk Penyakit Was-Was

Penyakit was-was ini bisa menimbulkan dampak buruk, berupa keraguan pada keyakinan. Demikian juga dalam hal wudhu. Ketika seseorang yang berwudhu merasa ragu-ragu apakah ia telah berhadas ataukah belum dan apakah wudhunya telah sah atau tidak. Akibat dari sifat was-wasnya ini seseorang bisa melakukan wudhu secara berulang-ulang. Adapun dampak buruk lainnya seperti mengulang-ulang shalat karena menganggapnya tidak sah, mengganti baju karena menyangkanya terkena najis. Bahkan bisikan yang terkait dengan hal akidah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ ، وَلْيَنْتَهِ

“Setan datang pada salah seorang kalian lalu mengatakan, siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan ini? Hingga ia mengatakan, siapa yang menciptakan Rabbmu? Bila ia sampai pada yang demikian itu hendaknya ia berlindung kepada Allah dan segera berhenti darinya.” (HR. Bukhari, no. 3276 dan Muslim, no. 134)

Apabila seseorang telah yakin melakukan taharah, kemudian masih ragu telah berhadats ataukah belum, ia boleh shalat dengan thaharahnya itu. Sebab, ia dalam keadaan suci. Sebaliknya bila ia yakin telah berhadas kemudian ragu telah bersuci ataukah belum, ia tidak perlu mempedulikan keraguan itu, kecuali bila ia yakin telah bersuci. Kemudian apabila banyak keraguan yang muncul, maka ia tidak perlu mempedulikannya. Bila was-was setan ini telah merasuk ke dalam hati dan benak pikiran seseorang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang tersebut segera meminta perlindungan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan mengakhiri was-was tersebut dari benak pikirannya. Wallahu a’lam.



Sumber Referensi:

1. https://muslim.or.id/11588-fatwa-ulama-bagaimana-agar-terbebas-dari-was-was.html
2. https://youtu.be/sXfSsK1BjS4
3. https://rumaysho.com/28887-jangan-jangan-kita-terkena-penyakit-waswas-ini-cara-mengobatinya.html
4. https://rumaysho.com/3096-kaedah-fikih-9-ragu-tidak-bisa-mengalahkan-yakin.html

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply