Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

Menyikapi Perayaan Tahun Baru Masehi Sebagai Seorang Muslim

 



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar para Ukhti dan Akhi?

Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Aamiin.

Tidak terasa saat ini kita sedang berada di penghujung tahun 2023, dan sebentar lagi akan memasuki tahun 2024. Seperti setiap tahunnya, momentum menuju tahun baru selalu hadir dengan penuh kemeriahan dan  berbagai  perayaan. Saat malam tahun baru Masehi biasanya para muda-mudi mengadakan berbagai pesta. Diantaranya ada yang bergadang untuk menunggu jam 00.00 tiba. Kemudian setelah waktunya telah tiba mereka bergembira dan serentak meniup terompet dan berpesta kembang api. Fenomena ini merupakan kejadian yang berulang setiap tahunnya. Bahkan, setiap tahunnya semakin bertambah semarak. Lalu bagaimanakah cara menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam?

Apakah Boleh Merayakannya?

Tahun baru bukanlah hari raya umat Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, atau hari Jumat. Dilihat dari sejarah asal usulnya, tahun baru pertama kali dirayakan  pada tanggal 1 Januari 45 Sebelum Masehi oleh orang-orang kafir. Artinya perayaan ini tidak berasal dari Islam. Merayakan tahun baru berarti mengikuti perayaan orang kafir, inilah namanya tasyabbuh. Tasyabbuh pada perayaan orang kafir itu terlarang.

Kalau sudah terbukti bahwa perayaan itu hanyalah tradisi orang kafir, lalu kita dilarang tasyabbuh (meniru) tradisi mereka, maka merayakannya pun tak perlu.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »

Artinya: “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari no. 7319)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Artinya : “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). 

Ada beberapa keburukan yang ditimbulkan ketika merayakan tahun baru diantaranya yaitu:

1.  Salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh                 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

2.  Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan            menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.

3.  Ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan bahkan sampai terjerumus pada perbuatan           zina.

4.  Pemborosan harta, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli petasan,             bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa             ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya. Wallahu a’lam

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam:

1. Meninggalkan atau tidak Ikut-ikutan dalam Perayaan

    Salah satu cara paling utama dalam menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam adalah, meninggalkan perayaan tersebut dan tidak larut dalam momen perayaan pergantian tahun. Cara ini merupakan cara  paling aman agar tidak terjerumus ke dalam maksiat yang merajalela saat perayaan tahun baru. 

2. Membiarkan orang kafir merayakannya dan tidak memancing keributan

    Cara kedua menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam adalah membiarkan orang kafir merayakannya. Ini merupakan sikap toleransi dimana seorang muslim tidak ikut campur, tidak melarang kaum kafir, dan tidak melakukan hal-hal yang dapat memancing keributan dan kerusakan.


لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kaafirun 109:06

Dalam ayat lain Allah subḥānahu wa ta’ālā juga berfirman,

 

أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya:“Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus 10: 41)

Allah subḥānahu wa ta’ālā juga befirman,

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

Artinya:“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al-Qashash 28: 55)


3. Memohon perlindungan supaya  terhindar dari fitnah tahun baru

        Setelah segala bentuk usaha dan ikhtiar dilakukan, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan sebagai seorang muslim adalah berdoa.

Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah doa memohon perlindungan dari siksa neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan fitnah setelah mati, serta dari kejahatan finah Dajjal.

Berikut adalah doanya,


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah al-Masih al-Dajjal.” (HR. Muslim)

Demikianlah, tiga cara yang dapat dilakukan dalam menyikapi tahun baru masehi bagi umat Islam. Semoga Allah subbanah wa ta'ala senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah agar kita terhindar dari segala macam perbuatan yang dilarang  agama.








Larangan dan Adab Ziarah Kubur

 



Bismillahirrohmaanirrohim

Assalamu’laikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar ikhwah sekalian?

Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat walafiyat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Mengunjungi makam orang yang sudah meninggal atau biasa kita sebut ziarah kubur merupakan sesuatu yang dapat mengingatkan manusia akan kematian dan akhirat. Banyak sekali manfaat yang didapat dari amalan berziarah ke kubur. Namun, perlu diketahui bahwa ada dua bentuk ziarah kubur: ziarah kubur yang disyariatkan dan ziarah kubur yang dilarang dalam islam. Oleh karena itu ada adab-adab yang harus kita pahami saat ziarah kubur. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita semua petunjuk.

Mengenai hukum ziarah kubur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عن بُرَيْدَةَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِى زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَة. [رواه مسلم وابو داود والترمذي وابن حبان والحاكم]

Artinya: Diriwayatkan dari Buraidah ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Dahulu aku pernah melarang ziarah kubur, maka telah diizinkan bagi Muhammad berziarah kubur bundanya. Maka berziarahlah kubur, sebab hal itu mengingatkan akhirat. (HR. Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Adab ziarah kubur

Agar berbuah pahala, maka ziarah kubur harus sesuai dengan tuntunan syari’at. Ziarah kubur disyariatkan jika diniatkan untuk mengingat kematian dan juga merenungkan akhirat. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari sahabat Buraidah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ

Artinya: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi makam ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat.” (HR. Tirmidzi no. 1054, dinilai sahih oleh Al-Albani).

Berikut adalah adab ketika ziarah kubur :

  

1.      Meluruskan niat, tujuan ketika berziarah


Suatu perbuatan bisa dinilai baik atau buruknya tergantung dari niatnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khathab berkata: Aku mendengar Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan...” (Diriwayatkan oleh dua ahli hadits: Abu Abdulloh Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairy an-Naisaburi, dalam kedua kitab sahihnya, yang merupakan kitab hadits paling shohih)

Oleh sebab itu, niatkan ziarah kubur hanya untuk mendoakan ahli kubur dan sarana untuk mengingat akhirat. Jangan sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala.

2.      Mengucapkan salam

Disyariatkan mengucapkan salam untuk ahli kubur. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju pemakaman, kemudian mengatakan, 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

Artinya: “Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian wahai penghuni kampung kaum mukminin. Sesungguhnya insya Allah kami akan menyusul kalian”  (HR. Abu Dawud no. 3237, An-Nasa’i no. 150, dan Ibnu Majah no. 4306, dinilai sahih oleh Al-Albani).

3.      Tidak perlu melakukan safar hanya demi ziarah kubur

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Artinya: “Tidaklah boleh mengadakan perjalanan (dengan tujuan ibadah) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397). 

Hal ini bertujuan untuk menutup jalan keburukan agar kaum muslimin tidak mengistimewakan, atau mengeramatkan tempat-tempat tertentu, termasuk, makam orang saleh untuk beribadah dan mencari berkah di sana. Karena seseorang berdoa meminta-minta kepada penghuni kubur hal ini termasuk dalam syirik.

4.      Melepas alas kaki ketika memasuki perkuburan

Dari shahabat Basyir bin Khashashiyah radhiyallahu ‘anhu : “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seseorang sedang berjalan diantara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ» فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

Arinya: “Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!” Lalu orang tersebut melihat (orang yang meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau orang itu adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia melepas kedua sandalnya dan melemparnya” (HR. al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Ibnu Majah).

5.      Mendoakan ahli kubur

Boleh mengangkat tangan ketika mendo’akan mayit tetapi tidak boleh menghadap kuburnya ketika mendo’akannya (yang dituntunkan adalah menghadap kiblat) sebagaimana dalam sebuah hadis,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلاً إِلَي الْبَقِيْعِ يَسْتَغْفِرُ لَهُمْ وَاَطَالَ الْقِيَامَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. [رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada suatu malam ke Baqi’, beliau lama berdoa, memohon ampun bagi mereka tiga kali, dengan mengangkat kedua tangannya.”([HR. Muslim)

لِحَدِيْثِ البَرَاءِ اَنَّهُ جَلَسَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ لَمَّا خَرَجَ اِلَي المَقْبَرَةِ. [رواه ابو داود]

Artinya: “Menilik hadis Bara’ bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk menghadap qiblat ketika pergi berziarah kubur” (HR. Abu Dawud)

6.      Tidak mengucapkan al hujr

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan: “Tidaklah samar lagi bahwa apa yang orang-orang awam lakukan ketika berziarah semisal berdo’a pada mayit, beristighotsah kepadanya, dan meminta sesuatu kepada Allah Ta'ala dengan perantaranya, adalah termasuk al hujr yang paling berat dan ucapan bathil yang paling besar. Maka wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada mereka tentang hukum Allah dalam hal itu. Dan memahamkan mereka tentang ziarah yang disyari’atkan dan tujuan syar’i dari ziarah tersebut”

7.      Tidak boleh meratapi mayit

Menangis yang wajar diperbolehkan sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis ketika menziarahi kubur ibu beliau sehingga membuat orang-orang disekitar beliau ikut menangis. Tetapi jika sampai tingkat meratapi mayit, menangis dengan histeris, menampar pipi, merobek kerah, maka hal ini diharamkan.

Hal-hal yang dilarang pada kubur

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Artinya: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.(HR. Muslim, no. 970).

1.   Memberi kapur pada kubur

Larangan memberi kapur pada kubur dengan tujuan menghias atau mempercantik kubur.

2.   Duduk di atas kubur

Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

Artinya: Seandainya seseorang duduk di atas bara api sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, itu lebih baik baginya dibandingkan duduk di atas kubur.(H.R Muslim, no. 1612). 

3.   Larangan membuat bangunan di atas kubur

Karena akan menimbulkan mafsadat begitu banyak diantaranya perantara untuk menyembah kubur apalagi kubur itu kubur seorang yang dianggap wali, peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur, perantau menuju kesyirikan, termasuk pemborosan dan buang-buang harta, dan termasuk mempersempit area pekuburan.

 Allah Ta’ala telah berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Artinya: Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa, yaghuts, yauq dan nasr(QS. Nuh: 23)

Berhala-berhala yang teah disebutkan ayat tersebut adalah patung-patung berbentuk orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh Alaihissalam. Ketika orang-orang shalih itu meninggal, setan menggoda kaum Nabi Nuh Alaihissalam untuk membuat patung-patung di majelis mereka dan menamainya dengan nama mereka, agar dapat mengingatkan mereka ketaatan jika mereka melihat patung orang-orang shalih. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah). 

 

Semoga penjelasan tentang adad ziarah kubur di atas bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin. Aamiin, Wallahu Ta’ala a’lam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘aalamin…


Sumber:

·         https://rumaysho.com/972-ziarah-kubur-yang-jauh-dari-tuntunan-islam.html

·        https://muhammadiyah.or.id/hukum-dan-tuntunan-ziarah-kubur/

·        https://muslim.or.id/72545-macam-macam-ziarah-kubur

·        https://rumaysho.com/14167-3-larangan-pada-kubur.html

·        https://muslim.or.id/7803-adab-islami-ziarah-kubur.html

 

 




Apa Hikmah Dari Berqurban?


 
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar teman-teman?

Semoga kita senantiasa dirahmati Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Aamiin..

Beberapa hari yang lalu khususnya umat Muslim telah merayakan hari raya Idul Adha, hari raya Idul Adha merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Muslim di seluruh dunia. Dimana seluruh umat Muslim merayakan momen yang bersejarah ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam bersedia mengorbankan putranya yaitu Ismail atas perintah dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Hari raya Idul Adha juga biasa dikenal dengan sebutan hari raya Qurban. Lalu, apa hikmah yang kita dapat dari berqurban? 

Berqurban artinya mengorbankan hak dan harta yang kita punya. “Berqurban” berarti kesungguhan manusia menyerahkan segalanya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Orang yang berqurban hendaknya mengikhlaskan ibadahnya hanya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, bukan untuk pamer dan diagung-agungkan, jaga keikhlasan jangan kita palingkan kepada makhluk dan jangan karena kita berqurban hanya agar dipuji oleh manusia. 

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS. Al Kautsar: 1-3)

Syekh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,

خص هاتين العبادتين بالذكر، لأنهما من أفضل العبادات وأجل القربات. ولأن الصلاة تتضمن الخضوع [في] القلب والجوارح لله، وتنقلها في أنواع العبودية، وفي النحر تقرب إلى الله بأفضل ما عند العبد من النحائر، وإخراج للمال الذي جبلت النفوس على محبته والشح به

Artinya: “Allah mengkhususkan dua ibadah ini karena keduanya adalah di antara ibadah yang paling utama dan jalan mendekatkan diri kepada Allah yang paling baik. Salat sendiri adalah ibadah yang menggabungkan antara tunduknya hati dan anggota tubuh hanya kepada Allah. Dan di dalam ibadah kurban juga terdapat bentuk pendekatan diri kepada Allah dengan mengurbankan hewan paling baik dan mengeluarkan harta yang dicintai oleh hati.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 935)

Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.’” (QS. Al An’am: 162-163)


Adapun tujuan berqurban yaitu agar kita mendekatkan diri, mengingat, berdzikir dan menyebut nama Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Bertakbir bukan hanya dengan lisan tetapi dengan hati dan jiwa kita. 

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

            وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ

Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” (QS. Al Hajj: 34)

Beberapa hikmah yang dapat kita dapatkan dari berqurban yaitu,

Bentuk rasa syukur kita kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berikan kepada kita. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ

 Artinya: “Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.” (QS. Ibrahim: 34)

Bersyukur atas nikmat harta kemudian menggunakannya untuk ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala merupakan sebaik baik cara bersyukur.

Melaksanakan ajaran  Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala,

ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

 Artinya:“Kemudian, Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim sebagai (sosok) yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.’” (QS. An-Nahl: 123)

Mengingat kesabaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Agar setiap mukmin mengingat kesabaran dari Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihissalam, yang taat dan kecintaan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala lebih besar dari diri sendiri dan anak. Jika sekarang kita hanya diperintahkan untuk berqurban menyembelih seekor hewan, maka beliau dulu harus rela dan bersabar ketika diuji dengan perintah untuk menyembelih putranya Ismail ‘alaihissalam.
Lebih baik ibadah qurban daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Penyembelihan yang dilakukan pada waktu mulia lebih afdal daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya, jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiran (dalam ibadah haji) meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan qurban.” (Talkhish Kitab Ahkamil Ushiyyah wadz Dzakaah, hlm 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2:379)


Untuk meraih taqwa 

Qurban dilakukan untuk meraih taqwa. Yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Menambah rasa cinta antar sesama muslim

Dengan berqurban manusia diajarkan untuk berbagi kepada mukmin lain. Dengan adanya qurban ini kaum muslimin yang kurang mampu bisa ikut merasakan bagaimana indahnya islam di hari raya qurban tersebut.


Sumber:
1.    https://muslim.or.id/1601-meraih-takwa-melalui-ibadah-qurban.html
2.    https://muslimah.or.id/10883-hikmah-di-balik-qurban.html
3.    https://suaramuhammadiyah.id/2016/09/17/hikmah-ibadah-qurban/amp/
4.    https://www.youtube.com/live/8o6FhJgd9Ss?feature=share


Dimanakah Letak Batas Kesabaran ?





Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar ikhwan dan akhwat sekalian?

Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat walafiat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Ikhwan dan akhwat sekalian sebagai manusia biasa pasti kesabaran yang kita punya sering diuji oleh cobaan maupun oleh orang-orang terdekat kita. Lalu sebenarnya apakah sabar itu ada batasnya?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24).

Dengan kata lain sabar yaitu menahan diri dari hal-hal yang ingin dilakukan namun dilarang oleh syariat, menahan diri dari emosi dan tidak mengeluh ketika sedang mengalami musibah. Kedua hal tersebut adalah satu hal yang harus dilewati untuk berada dijalan Allah Ta’ala.

Hakikatnya, kesabaran itu tidak memiliki batas. Namun, kita adalah orang-orang yang mempunyai keterbatasan dalam bersabar. Kesabaran itu tidak terbatas karena Allah Ta’ala juga memberikan pahala yang tidak terbatas kepada siapa saja yang mau dan mampu bersabar.

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95). Demikian pula, ketika kesabaran itu hilang maka imanpun ikut hilang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang menempa diri untuk sabar, maka Allah akan jadikan dia penyabar. Dan tidaklah seorang diberikan suatu karunia yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ikhwan dan akhwat sekalian. Namun, sabar itu tidak hanya sabar ketika terkena musibah saja. Terdapat tiga jenis kesabaran yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah Ta’alasabar dalam menjahui kemaksiataan, dan sabar dalam menerima takdir Allah Ta’ala.

1. Sabar dalam Ketaatan kepada Allah Ta’ala

Yaitu bersabar dalam melakukan semua ketaatan kepada Allah Ta’ala. Perlu diketahui bahwa ketaatan itu sulit bagi jiwa seseorang. Terkadang ketaatan juga membuat kita terasa malas dan lelah. Pada dasarnya ketaatan itu terdapat rasa berat dalam jiwa dan raga sehingga butuh adanya kesabaran dan dipaksakan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ                                                                                         


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron [3] : 200).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa dalam melakukan ketaatan juga butuh kesabaran yang terus menerus dijaga karena:

(1) Ketaatan itu akan membebani seseorang dan mewajibkan sesuatu pada jiwanya,

(2) Ketaatan itu terasa berat bagi jiwa, karena ketaatan itu hampir sama dengan meninggalkan maksiat yaitu terasa berat bagi jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan.

2. Sabar dalam Menjahui kemaksiatan

Jika ada seseorang yang sering mengajak kepada kejelekan, hendaklah menahan diri dari perbuatan-perbuatan terlarang seperti menipu, berdusta, berzina, minum minuman keras dan berbagai maksiat lainnya. Seseorang harus menahan diri dan menjahui dari hal-hal semacam itu. Hal ini tentu saja membutuhkan paksaan dari diri dan menahan diri dari hawa nafsu.

3. Sabar Menerima Takdir Allah Ta’ala  

Takdir Allah Ta’ala tentu ada yang menyenangkan dan ada yang terasa pahit. Untuk takdir Allah Ta’ala yang menyenangkan, hendaknya seseorang harus bersyukur. Sedangkan takdir Allah Ta’ala yang dirasa pahit misalnya seseorang sedang mendapat suatu musibah, hendaknya seseorang tersebut sabar menahan dirinya jangan sampai menampakkan kegelisanhannya pada ucapannya, hatinya, atau anggota badan. Dan hendaknya tetap berfikir positif  kepada Allah Ta’ala atas apa yang telah menimpanya.

Manfaat Bersabar

Sabar adalah sikap menahan emosi, keinginan dan bertahan dalam keadaan sulit tanpa mengeluh. Selain menenangkan pikiran ternyata sabar dapat memberikan banyak manfaat, terutama dalam hal kesehatan mental. Berikut beberapa manfaat dalam bersabar antara lain:

1. Mencegah Penyakit

Manfaat sabar dapat mencegah dari berbagai penyakit. Dari hasil studi yang dirilis oleh (Journal  of American Medical Association di tahun 2003), menunjukkan bahwa orang yang memiliki banyak kesabaran dalam hidup memiliki risiko lebih rendah terkena tekanan darah tinggi (hipertensi) bahkan penyakit jantung dibandingkan mereka yang tidak.

Seseorang yang tidak sabar cenderung akan mudah emosi, yang pada akhirnya memicu peningkatakm tekanan darah dan peningkatan denyut jantung yang bisa menyebabkan seseorang terkena serangan jantung mendadak.

2. Menghindari Stres

Sesuatu yang dikerjakan secara terburu-buru hanya akan menambah beban pikiran dan mengurangi hasil produktivitas yang kurang maksimal. Akibatnya, muncullah rasa stres, yang mana dapat menimbulkan sejumlah penyakit, bahkan tak jarang komplikasi yang mengancam nyawa. Maka hendaknya kita mengerjakan sesuatu dengan tenang dan lebih fokus.

3. Mencegah kerusakan DNA

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Singapura berhasil menemukan korelasi antara sifat sabar dengan kesehatan DNA, dalam hal ini ialah struktur DNA terkecil yang berfungsi memproteksi DNA dari kerusakan yang bernama telomere. Dikatakan dalam penelitian tersebut bahwa orang yang tidak sabar memiliki struktur telomere yang lebih pendek ketimbang orang yang penyabar. Padahal, struktur telomere yang pendek menyebabkan seseorang rentan terhadap kerusakan DNA, yang dapat menyebabkan kematian dini.

4. Hidup tenteram dan damai

Manfaat sabar lainnya adalah membuat hidup menjadi lebih tenang dan damai. Seorang akademisi dari Pace University, Amerika Serikat, Daniel Baugher, mengatakan jika sifat tidak sabar hanya akan menyebabkan rasa gelisah, marah, bahkan tidak jarang membuat seseorang gemar memusuhi orang lain. Sebaliknya, berperilaku sabar menjadikan hidup terasa ringan, tenteram, dan damai karena Anda mampu melalui segalanya dengan penuh ketenangan sebagai efek dari bersabar.

Adapula beberapa kendala yang dialami dalam menuju kesabaran seperti tergesa-gesa, kemarahan dan putus asa adalah kendala terbesar untuk bisa berlaku sabar.

Hal-hal untuk Melatih Diri dan Memperkuat Kesabaran

  • Selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah dicapai dalam kehidupan.
  • Mengimani bahwa dunia itu semuanya milik Allah. Dia memberikan kepada siapa yang dikehendakinya dan tidak memberikan kepada siapa yang dikehendakinya.
  • Menjadi pribadi yang mudah memaafkan atas kesalahan orang lain.
  • Yakin akan adanya jalan keluar. Allah menjadikan bahwa di dalam setiap kesulitan ada kemudahan dan rahmat dari Allah Ta’ala.
  • Tarik nafas dalam-dalam ketika ingin marah. Ketika sudah mulai marah, coba untuk bernapas dalam-dalam lalu bicara pada diri sendiri sesuatu yang positif sehingga pikiran untuk marah dapat diredam. Tarik napas dalam-dalam sambil menenangkan diri sendiri. Hindari konsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang yang dapat membuat kamu lebih impulsif dalam mengambil tindakan.
  • Jangan mudah menyerah meskipun mengalami banyak kegagalan.
  •  Memohon pertolongan kepada Allah Ta’la, berlindung di bawah naungan-Nya, dan mencari bantuan- Nya.

Sabar Bukan Berarti kita Lemah

Jika seseorang memilih untuk tetap bersabar, bukan berarti dia lemah tak berdaya. Sebaliknya, sabar merupakan sumber kekuatan dan dapat mendatangkan pertolongan dari Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya: “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Sabar Bukti Keimanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan, kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya, apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Allah Taala juga menerangkan bahwa kesabaran merupakan ciri orang beriman dalam firman-Nya,

وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Artinya: “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 177).

Sabar Merupakan Anugerah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنَ الصَّبْرِ

Artinya: “Tidak ada sebuah anugerah yang lebih baik dan lebih besar bagi seseorang daripada kesabaran.” (HR. Muslim).

Anugerah yang diberikan oleh Allah Ta’ala berupa berkah, rahmat, dan petunjuk-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan berkah yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka (Allah), dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157).

Semoga Allah Ta'ala menganugerahkan kepada kita kekuatan iman untuk bersabar menghadapi kesulitan, hidup taat dan menjauhi maksiat. Dan semoga Allah membantu kita untuk mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan kita. Allah Ta'ala berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ‌ۖ وَلَٮِٕن ڪَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: “Sungguh, jika kalian bersyukur pasti Aku tambahkan nikmat kepada kalian. Akan tetapi jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku teramat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

 

 

Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

Sumber:

·         https://muslim.or.id/66285-pentingnya-sabar.html

·         https://konsultasisyariah.com/10371-batas-kesabaran.html

·         https://muslim.or.id/81860-kesabaran-yang-terbatas.html

·         https://muslimah.or.id/3724-sabar-itu-akan-selalu-indah.html

·         https://www.halodoc.com/artikel/dianggap-sepele-menahan-marah-pengaruhi-kesehatan-mental

·         https://muhammadiyah.or.id/sabar-sebagai-penolong/

·         http://bogor-kota.muhammadiyah.or.id/artikel-3-macam-sabar-menurut-ulama-detail-964.html

·         https://tabligh.id/belajar-untuk-sabar/

 

 

 

 

Press Release Pleno 2 dan Musyawarah Besar LDM-PM UMS

 Rapat pleno 2 dan musyawarah besar (Mubes) reorganisasi LDM-PM UMS adalah salah satu program kerja dari sekretaris umum


Kegiatan rapat pleno 2 dan mubes reorganisasi LDM-PM UMS terlaksana pada hari sabtu (17/12/2022) s/d Ahad (18/12/2022) di ruang kelas J.4.7 fakultas komunikasi informatika. Kegiatan ini mengusung tema “Tekad Menuju Perubahan yang Penuh Aksi untuk Regeneasi”. Kegiatan rapat pleno dan mubes ini dibuat dalam dua sesi. Sesi pertama dilaksanakan pada hari sabtu (17/12/2022) mulai dari jam 07.00 WIB s/d 15.00 WIB. Kemudian, dilanjutkan pada sesi kedua pada hari Ahad (18/12/2022) mulai pukul 08.00 WIB s/d 17.30 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh anggota dan demisioner LDM-PM UMS.

Tujuan diadakannya rapat pleno 2 dan mubes reorganisasi LDM-PM UMS dengan tema “Tekad Menuju Perubahan yang Penuh Aksi untuk Regeneasi” agar terpilihnya penerus-penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di LDM-PM UMS. Selain itu, sesuai dengan tema kegiatan tersebut, perlu adanya aksi perubahan-perubahan yang menuju ke arah positif. Terlebih lagi, dengan adanya reorganisasi ini diharapkan pengurus baru mampu memberikan inovasi-inovasi dan menjadikan LDM-PM menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Alhamdulillah kegiatan rapat pleno 2 dan mubes reorganisasi LDM-PM UMS sudah terlaksana. Banyak sekali hikmah dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Hikmah dan manfaat dari kegiatan tersebut kedepannya mampu untuk dijadikan evaluasi untuk perubahan yang lebih baik lagi.

Dengan dilaksanakannya pleno 2 dan mubes reorganisasi LDM-PM UMS diharapkan pengurus yang terpilih mampu menjalankan amanah yang telah diemban, menjalankan roda organisasi sesuai dengan berdasar pada nilai-nilai islami yang tercantum pada Al-Qur’an dan As-sunnah, menerapkan hukum Syari’at Islam yang mengatur kehidupan sosial terutama dalam berorganisasi, meneladani dan mendalami perjuangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dan para sahabat dalam berdakwah dan berorganisasi.

Berikut dokumentasi pleno 2 dan mubes reorganisasi LDM-PM UMS





Press Release Majalah GEMA Edisi 05



Majalah GEMA adalah salah satu bentuk dakwah bil qolam yang dilaksanakan oleh LDM-PM UMS khususnya Departemen Unit Pengembangan Media (UPM). GEMA sendiri  merupakan singkatan dari Gerakan Menulis Aplikatif. Tujuan diterbitkannya Majalah GEMA, antara lain untuk merealisasikan dakwah bil qolam di lingkungan kampus, mengasah skill jurnalistik anggota UPM LDM-PM UMS, memberikan tambahan ilmu dan wawasan keislaman kepada mahasiswa dan masyarakat di lingkungan UMS, dan menyiarkan nilai-nilai islam kepada mahasiswa dan masyarakat di lingkungan UMS. 


Rubrik yang disajikan dalam Majalah GEMA sangatlah banyak, meliputi rubrik bahasan utama yang membahas tentang keresahan para pemuda di era digitalisasi ini. Rubrik akidah dan  ibadah yang sangat penting bagibseorang muslim dalam bergama. Rubrik berita terkini yang sedang trending topic. Rubrik islamipedia membahas tentang fakta ajaran islam yang relevan dengan ilmu pengetahuan modern. Dan masih banyak lagi. Tidak lupa juga ada TTS (teka teki silang) yang kami sediakan bagi para pembaca dan reward bagi mereka yang menjawabnya dengab benar. 


Dalam proses pencetakan Majalah GEMA edisi 05 kali ini tim redaksi dari LDM-PM UMS menyerahkan proses cetak kepada Penerbit Oase Pustaka yang beralamatkan  di Jl. Nusantara, Sawah, Palur, Kec. Mojolaban, Kab. Sukoharjo. Proses cetak Majalah GEMA berjalan dengan lancar. Alhamdulillah tepat pada tanggal 25 November 2022 majalah ini sudah selesai dicetak dengan jumlah 138 buah.  Dengan kerjasama dan kekompakan dari kepanitiaan serta semua pihak yang mendukung dalam kelancaran pembuatan Majalah GEMA perlu untuk disyukuri. Kesuksesan pada acara ini semata-mata tidak hanya dari salah satu pihak melainkan rencana Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah ditetapkan untuk memberikan kelancaran pada pembuatan Majalah GEMA LDM-PM UMS edisi 05. 


Distribusi majalah yang berbentuk buku ditujukan ke-seluruh Ormawa dan UKM yang ada di UMS. Majalah didistribusikan melalui pembagian secara langsung dengan mendatangi sekretariat Ormawa dan UKM. Sedangkan majalah yang berbentuk pdf kami tujukan ke-semua anggota LDM-PM, Mahasiswa UMS, dan masyarakat Umum. Adapun pembagiannya kami publish di Instagram, Facebook, WhatsApp, dan Blog LDM-PM UMS. 


Semoga penerbitan Majalah GEMA yang kami adakan mampu membentuk generasi rabbani yang menjadikan qalbunya selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikan kita generasi Islam yang mampu menyebarkan syariat Islam dalam menebar dakwah terutama dakwah bil qolam. Serta semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni dosa dan kesalahan kami semua, Aamiin.


Berikut dokumentasi pendistribusian Majalah GEMA Edisi 5