Tematik

copyright by @ LDM - PM UMS. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Aqidah

Shiroh

Fiqih

Keorganisasian

Kajian Rutin

Kesehatan

Dahsyatnya Istighfar




Bismillahirrahmaniirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar temen-temen?
Semoga kita semua senantiasa dalam keadaan sehat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Pada kondisi apa kita beristighfar?

Sebagai seorang muslim, tentu kalimat istighfar sudah dipahami sebagai ucapan yang biasanya kita ucapkan ketika kita melakukan sebuah kesalahan entah itu yang disengaja maupun tidak. Bahkan sebaiknya lisan kita selalu dibahasi dengan beristighfar saat kita tengah melakukan rutinitas sehari-hari sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selalu mencontohkan demikian kepada ummatnya. Contohnya sebagai seorang pelajar sembari dalam perjalanan menuju kampus, menunggu kehadiran dosen, sampai saat-saat menegangkan menjelang ujian semester hingga ujian skripsi bisa kita isi dengan beristighfar dalam hati. Namun, apakah kalimat istighfar hanya diucapkan saat kita melakukan perbuatan buruk saja? Apakah kalimat istighfar hanya sebatas memohon ampunan Allah saja?


Istighfar dan Pintu Rezeki

Dalam ayat di Qur’an Surah Nuh, Allah berfirman:

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَٰرًا

Yang artinya : “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat tersebut mengandung pesan dengan jelas bahwa istighfar akan membuka pintu rezeki seseorang, bahkan turut pula membuka rezeki orang lain seperti lewat turunnya hujan. 


Istighfar Menghilangkan Kesedihan

Kemudian terdapat dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Yang artinya: “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Dikatakan bahwa senantiasa beristighfar kepada Allah juga akan menjauhkan hati dari kesedihan, juga melapangkan dari segala kesempitan. Pada dasarnya, beristighfar adalah meminta ampunan kepada Allah, atas segala kesalahan dan perbuatan dosa, tetapi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak hanya akan menghapuskan dosa hamba-hamba-Nya melainkan juga akan memberikan lebih kebaikan-kebaikan. Sebab dosa adalah penghalang dari hal-hal baik yang sebetulnya akan datang kepada kita. 

Diibaratkan sebuah selang air, tumpukan dosa adalah gumpalan kotoran yang menutup aliran air, apabila senantiasa menjaga kebersihan selang dengan menghilangkan sumbatan tersebut maka air pastilah dapat mengalir dengan lancar. 


Istighfar dan Kebahagiaan

Berdasarkan konsep istighfar sebagai pengugur dosa seseorang dan yang membuat rezeki mengalir dan datang dari arah yang tidak diduga-duga, tentulah hal tersebut senantiasa akan membawa seorang muslim pada kebahagiaan.


Istighfar Menghilangkan Rasa Malas

Dari salah satu sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam yaitu Al Aghorr Al Muzanni, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Yang artinya: “Ketika hatiku malas, aku beristigfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)

Sebagi pelajar atau mahasiswa pasti tidak jarang dilanda rasa malas dalam menjalani aktivitas, sebagaimana diketahui bahwa malas datang dari syaithon, maka beristighfar dapat menjadi obat dan solusi ampuh sebagaimana telah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam anjurkan. Semoga kita selalu senantiasa terbiasa menjalankan amalan beristighfar setiap harinya bahkan pada saat-saat kita tidak sedang melakukan sebuah perbuatan yang salah sekalipun, dalam rangka mengharap ampunan Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Aamiin.




Sumber :

https://muslim.or.id/7702-membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html
https://muslimah.or.id/10953-bahagia-dengan-istighfar.html
https://rumaysho.com/3437-perintah-memperbanyak-istighfar.html

Letak Kebahagiaan Yang Sesungguhnya



Bismillahirrahmaniirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar temen-temen?
Semoga kita semua senantiasa dalam keadaan sehat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Kebahagiaan merupakan sesuatu yang dicari-cari. Yang pada zaman ini banyak dari mereka mengeluh tidak memilikinya. Padahal sudah banyak jalan yang mereka tempuh untuk mencari kebahagiaan tersebut. Sebagian mereka mengira kebahagiaan terletak pada banyaknya harta, sehingga mereka terus berusaha mencari harta yang banyak. Namun kebahagiaan juga tidak dia dapatkan. Keadaan seperti apa yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala firmankan,

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُ ۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Artinya: “ Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk dalam kubur .“
(QS. At-Takatsur:1-2)

Dan sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan ada dalam tamasya sehingga dia habiskan sepanjang usianya untuk bertamasya dari satu tempat ke tempat lain. Istri dan anaknya belum cukup membuatnya bahagia sehingga dia pergi mencari kebahagiaan namun juga tidak mendapatkannya. Sebagian manusia ada yang berputus asa untuk mendapatkan kebahagiaan. Ia berkata bahwa kebahagiaan adalah ilusi indah yang tidak ada realitanya. Namun apakah benar seperti itu? Lalu bagaimana kebahagiaan yang sesungguhnya?

Orang yang Beriman dan beramal shalih

Sesungguhnya kebahagiaan itu ada pada hati yang bertakwa dan amal shalih yang murni. Merekalah yang sebenarnya telah merasakan kebahagiaan dan manisnya kehidupan karena hatinya selalu tenang, meskipun mereka hidup dengan sederhana. Berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang selalu merasa gelisah. 

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)

وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ

Artinya : “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)

Begitu pula Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya : “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesunguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. “
(QS. Az-Zumar: 10)


Surga Dunia

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.”

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya. Inilah yang sesungguhnya surga dunia yang dirindukan para pecinta surga akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya : “ Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena hati yang selalu merasa cukup itu lebih utama daripada harta yang melimpah. Barang siapa yang telah dikaruniai Allah Subhaanahu Wa Ta’ala taufik pada jalan takwa maka Allah Subhaanahu Wa Ta’ala karuniakan kepadanya hati yang bertakwa, yang dengannya dia mampu menahan diri dari segala hal yang Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah haramkan dan tidak melanggarnya dan dia bisa mengenali kewajiban-kewajiban dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala sehingga dia tidak melalaikannya.

Sungguh dia telah dikaruniai kebahagiaan. Yang demikian itu karena kebahagiaan adalah ketenangan hati, dan hati manusia berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pengasih sehingga Dia bisa membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Jadi, kebahagiaan adalah pemberian dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih.

Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia yaitu dengan memiliki hati yang selalu merasa cukup. Aamiin..

Wallahu A’lam

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh



Sumber :

1. https://muslim.or.id/2538-letak-kebahagiaan-bukan-pada-kemewahan-dunia.html
2. https://rumaysho.com/335-letak-kebahagiaan-adalah-di-hati.html
3. https://rumaysho.com/1029-3-tanda-kebahagiaan.html
4. https://youtu.be/avG6wWmnIKw
5. https://www.islampos.com/55726-55726/

Bahaya Sifat Was-Was



Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar ikhwan dan akhwat sekalian?

Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat walafiat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Ikhwan dan akhwat sekalian sebagai manusia biasa yang jauh dari kata sempurna pasti kita pernah atau bahkan sering merasakan was-was. Lalu bagaimana penuturan was-was menurut islam dan bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Apa itu was-was?

Dalam islam was-was merupakan godaan syaitan kepada manusia. Waswas atau waswasah adalah bisikan jiwa dan setan yang tidak mengandung manfaat dan kebajikan juga tidak dilandaskan pada keyakinan dasar. Was-was merupakan penyakit yang berbahaya karena penghilang khusyuk paling dominan apalagi pada saat akan beribadah.

Sebagaimana dijelaskan dalam surah An-Nas ayat 1-5 yang artinya:

“Katakanlah, aku berlindung kepada tuhannya manusia. Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Begitupun, jika kita mengalami sifat was-was ini kita harus berusaha keras untuk melawannya, dalam artian harus berlaku cuek atas kewas-wasan kita akan suatu hal.

Dampak Buruk Penyakit Was-Was

Penyakit was-was ini bisa menimbulkan dampak buruk, berupa keraguan pada keyakinan. Demikian juga dalam hal wudhu. Ketika seseorang yang berwudhu merasa ragu-ragu apakah ia telah berhadas ataukah belum dan apakah wudhunya telah sah atau tidak. Akibat dari sifat was-wasnya ini seseorang bisa melakukan wudhu secara berulang-ulang. Adapun dampak buruk lainnya seperti mengulang-ulang shalat karena menganggapnya tidak sah, mengganti baju karena menyangkanya terkena najis. Bahkan bisikan yang terkait dengan hal akidah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ ، وَلْيَنْتَهِ

“Setan datang pada salah seorang kalian lalu mengatakan, siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan ini? Hingga ia mengatakan, siapa yang menciptakan Rabbmu? Bila ia sampai pada yang demikian itu hendaknya ia berlindung kepada Allah dan segera berhenti darinya.” (HR. Bukhari, no. 3276 dan Muslim, no. 134)

Apabila seseorang telah yakin melakukan taharah, kemudian masih ragu telah berhadats ataukah belum, ia boleh shalat dengan thaharahnya itu. Sebab, ia dalam keadaan suci. Sebaliknya bila ia yakin telah berhadas kemudian ragu telah bersuci ataukah belum, ia tidak perlu mempedulikan keraguan itu, kecuali bila ia yakin telah bersuci. Kemudian apabila banyak keraguan yang muncul, maka ia tidak perlu mempedulikannya. Bila was-was setan ini telah merasuk ke dalam hati dan benak pikiran seseorang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang tersebut segera meminta perlindungan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan mengakhiri was-was tersebut dari benak pikirannya. Wallahu a’lam.



Sumber Referensi:

1. https://muslim.or.id/11588-fatwa-ulama-bagaimana-agar-terbebas-dari-was-was.html
2. https://youtu.be/sXfSsK1BjS4
3. https://rumaysho.com/28887-jangan-jangan-kita-terkena-penyakit-waswas-ini-cara-mengobatinya.html
4. https://rumaysho.com/3096-kaedah-fikih-9-ragu-tidak-bisa-mengalahkan-yakin.html

Self Love: Mengenal dan Mencintai Diri Sendiri





Bismillahirrohmanirohim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar teman-teman?

Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat walafiat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Teman-teman di zaman sekarang ini kita sering mendengar tentang self love atau mengenal dan mencintai diri sendiri. Dalam islam pun ternyata memiliki pemaparannya sendiri dan termasuk hal penting. Lalu, bagaimana self love menurut islam?

Dalam Islam, mencintai diri adalah sesuatu yang mendalam, terkait dengan alam jiwa yang akan membawa kita pada rasa syukur dan kesadaran akan cinta kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Sebelum cinta hendaknya terlebih dahulu kenal. Bagaimana cara mengenal diri sendiri?

Mengenal Diri

Yaitu dengan menerima segala kekurangan yang ada pada diri dan selalu mensyukuri kelebihan yang diberikan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan sibuk memperbaiki diri dan tidak peduli dengan aib orang lain. Dan barangsiapa mengenali Rabbnya, niscaya ia akan sibuk beribadah kepada-Nya dan tidak peduli dengan hawa nafsunya.”(Al-Fawaid, hal. 80)

Dalam sebuah hadis Qudsi yang cukup terkenal di kalangan sufi menyebutkan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.” (Yahya bin Muadz Ar-Razi)

Pengenalan diri seringkali dikaitkan dengan proses mawas diri dan muhasabah. Sangat sadar bahwa kita adalah manusia tidak sempurna yang memiliki batas dan jauh dari statement tidak melakukan kesalahan”. Maka kita sebagai manusia hendaknya selalu introspeksi diri dan berhati hati dalam bertindak. Jika seseorang melakukan kesalahan hendaknya dia sadar dan mengakui, menerima dan berusaha bangkit untuk terus memperbaikinya.

Dengan kata lain, ketika seseorang telah menyadari kelemahannya, di saat yang sama akan terbentuk pengetahuan bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala itu Maha Mulia, Maha Kaya, Maha Berkuasa, dan segalanya. Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah mensyukuri setiap detail dari diri maupun kehidupannya.


Mencintai Diri

Setelah mengenal, baru kemudian kita mengembangkan rasa cinta kepada diri sendiri. Mencintai diri sendiri juga merupakan bentuk cinta kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Logika sederhananya, jika kita tidak mencintai diri sendiri,berarti kita juga tidak mencintai Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan kita.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam mengajak kita untuk self love dengan cara memperhatikan segala yang dibutuhkan guna mencapai keseimbangan dan menjadi manusia seutuhnya. Larangan menzalimi diri selaku manusia, dengan sendirinya merupakan perintah untuk menghargai dan mencintai diri. Adil pada semua mulai dari jasmani, rohani, spiritual, hingga emosional.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencintai diri sendiri adalah tidak memberikan penekanan yang berlebih kepada hati. Selalu merasa cukup dan bersyukur pada kemampuan yang dimiliki dan berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Pada akhirnya, self love yaitu bertumbuh dan mengembangkan diri di bawah petunjuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah [5]: 87-88

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (87) وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ  الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
(88)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian, dan jangan¬lah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada kalian, dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah:87-88)

Ayat tersebut respons terhadap tindakan beberapa sahabat Nabi yang menolak rizki kebaikan yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Mereka hendak mengisolasi diri dari nikmat dunia, dan menganggap bahwa hidup cukup dengan ibadah saja. Ayat tersebut merupakan peringatan agar kita bersikap adil pada diri sendiri dan tidak melampaui batas.

Sebab kita harus seimbang. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala mempunyai hak atas diri kita, keluarga, demikian badan kita juga mesti dipenuhi hak-haknya. Manusia diciptakan bukan untuk membuat orang lain terkesan. Kita diciptakan untuk mempelajari diri, mengetahui Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyadari cinta-Nya, dan menyembah-Nya dengan sepenuh hati.

Oleh karena itu penting untuk mulai mencintai diri sendiri. Karena selain untuk melindungi diri, Islam pun mendorong setiap umat untuk yakin dengan kemampuan diri. Selalu bersyukur serta bertawakal kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.




Sumber referensi :

1. https://rumaysho.com/18775-hadits-arbain-13-mencintainya-seperti-mencintai-diri-sendiri.html

2. https://muslimah.or.id/14205-sibuk-introspeksi-diri-sendiri.html

3. https://www.uii.ac.id/mencintai-diri-sendiri-sebagai-bentuk-cinta-kepada-allah/

4. https://muslim.or.id/4391-kau-tak-kenal-dirimu-dan-tak-kenal-dirinya.html

5. https://arahmuslim.id/2022/02/17/1393/


Urgensi Adab Sebelum Ilmu




Bismillahirrohmaanirrohim

Assalamu’laikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar ikhwah sekalian?

Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat walafiyat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..


Pada pembahasan kali ini mengangkat topik tentang urgensi adab sebelum ilmu. Sebuah pembahasan yang rasanya bukan sesuatu yang asing dan belum pernah dipelajari sebelumnya. Namun, pada kenyataannya barangkali kita sering luput dalam penerapannya dan pada hakikatnya tidak ada ilmu yang tidak perlu diulang atau dimuroja’ah dalam kehidupan kita.

Kegiatan menuntut ilmu pasti sangat dekat dengan kehidupan kita terlebih sebagai mahasiswa, kita selalu berharap dan berusaha agar seluruh ilmu yang kita pelajari dapat kita pahami dengan cepat dan mudah. Namun, terkadang tanpa kita sadari ada hal yang terlewati setiap kali mempelajari sesuatu; Adab.

Mengapa adab begitu penting sampai-sampai posisi ilmu pun diletakkan di posisi kedua? Mengapa tidak bisa kita langsung saja mempelajari ilmu-ilmu yang sedang tren atau yang sangat kita butuhkan saat ini? Ada banyak sekali jawaban dan dalil tentang urgensi adab sebelum ilmu.


Adab memudahkan pemahaman ilmu

Dengan mendahulukan adab dalam menuntut ilmu, tanpa kita sadari kita lebih mudah dalam memahami ilmu. sebagaimana yang dikatakan oleh Yusuf bin Al Husain,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Bahkan terkadang tidakkah tujuan kita mempelajari atau melakukan sesuatu adalah semata-mata mengharap ridho Allah Subhaanahu Wa Ta’ala? Dan adab adalah salah satu hal yang dapat mendatangkan ridho-Nya karena disitulah letak dimana kita sungguh-sungguh dalam belajar dan beramal. Dengan adab, kita seperti membangun pondasi yang baik yang dapat memberikan keberkahan dalam hal yang kita lakukan selanjutnya.


Adab lebih mencerminkan diri kita sebelum ilmu

Imam Malik pernah diminta ibunya untuk mendatangi majelis dari Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman (seorang fakih pada masanya di Madinah), dan ibunya berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmuanya.”

Tidakkah ingat kisah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan seorang wanita tua yang selalu mengolok-olok dan melemparinya dengan kotoran unta? Hingga suatu hari sang wanita tua itu mengalami sakit dan Rasul pergi untuk menjenguk dan mendoakannya? Betapa tersentuhnya hati wanita tua itu dengan adab dan akhlak Rasulullah, hingga ia memutuskan untuk mengucapkan syahadat dan memasuki agama islam. Kisah itu benar-benar memberikan pesan seseorang melihat kita dari bagaimana kita bersikap sebelum menyampaikan sesuatu. Bagaimana seseorang tidak peduli dengan gelar tetapi sangat terkesan dengan adab dan akhlak, sebagai seorang muslim yang bisa kita representasikan kepada saudara non-muslim di luar sana tentang islam adalah bagaimana kita bersikap dan bertutur kata.


Ulama lebih lama mempelajari adab

Ibnul Mubarok pernah berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Barangkali kita hidup di zaman yang berbeda dengan ulama-ulama terdahulu dan tidak bisa menyamakan bagaimana dahulu mereka beramal dan mempelajari sesuatu, maka kita bisa menyesuaikan dengan keadaan kita pada masa kini. Pada intinya kita bisa senantiasa berusaha mengambil contoh dan menerapkannya, bagaimana mereka belajar, apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar terutama perihal adab sebelum ilmu.


Pentingnya adab bagi penuntut ilmu

Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim menekankan pentingnya adab bagi para penuntut ilmu,

أدب المرأ عنوان سعادته وفلاحه, وقلة أدبه عنوان شقاوته وبواره, فما استجلب خير الدنيا والآخرة بمثل الأدب, ولا استجلب حرمانهما بمثل قلة الأدب

“Adab seseorang adalah tanda kesuksesan dan kebahagiaannya. Kurang adab adalah tanda kegagalan dan kesedihan. Tak ada karunia yang paling bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, melebihi adab. Dan tak ada musibah yang paling bisa menghalangi seorang dari kebaikan dunia dan akhirat, melebihi kurangnya adab.”




Sumber :

Muslim.or.id. (2021, 28 Agustus). Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlak. Diakses pada 16 Mei 2022, dari https://muslim.or.id/21107-pelajarilah-dahulu-adab-dan-akhlak.html 

Muslim.or.id. (2020, 6 November). Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa Beradab. Diakses pada 16 Mei 2022, dari https://muslim.or.id/59333-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-bag-10-berilmu-jangan-lupa-beradab.html 

URGENSI TAUHID DI ERA PANDEMI

 

 
 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar para Ukhti dan Akhi?

Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Aamiin.

Pembahasan kali ini yaitu tentang pentingnya tauhid di tengah pandemi covid-19. Seperti yang telah kita ketahui bersama, saat ini umat manusia di seluruh belahan dunia tengah dilanda musibah yang berat, yaitu adanya wabah covid-19. Sampai saat ini jutaan orang telah terkonfirmasi positif covid-19 bahkan hingga meninggal dunia. Perhatian negara dan dunia pun terfokus pada penanganan musibah ini. Berbagai kebijakan dikeluarkan dan anggaran dialokasikan untuk mengatasi wabah ini. 

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa perintah yang utama bagi manusia adalah mentauhidkan Allah dan ibadah barulah dinamakan ibadah jika disertai dengan tauhid. Tanpa tauhid ibadah tidaklah disebut ibadah. Hal ini dapat kita misalkan dengan shalat tidaklah disebut shalat sampai seseorang itu berthoharoh atau bersuci. Hal ini sudah menunjukkan dengan sendirinya urgensi tauhid.

Sebagai umat islam, tentunya kita tidak boleh melupakan dasar dalam islam yaitu Tauhid dalam menjalankan kehidupan ini termasuk ketika menghadapi wabah ini. Tauhid berasal dari kata ahad atau wahid yang artinya satu. Tauhid dirangkum dalam kalimat tahlil, Laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan selain Allah). Tauhid memiliki implikasi yang sangat penting dalam sistem dan struktur amal dalam islam. Dengan tauhid, seorang muslim akan menjadikan Allah sebagai terminal akhir dari seluruh mata rantai aktivitas di dunia. Manusia yang kehilangan pegangan hidup, mereka akan mudah terperosok ke dalam tingkah laku yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini apabila diabaikan maka akan menghancurkan peradaban umat manusia.

Wabah penyakit covid-19 merupakan musibah yang sangat besar dan memberikan dampak bagi manusia di seluruh penjuru dunia termasuk umat muslimin dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya. Karena dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang di dalamnya meliputi, peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan kegiatan di tempat-tempat umum maka hal ini menjadikan banyak diantara kita yang terpaksa harus berhenti bekerja, meniadakan shalat berjama’ah dan pengajian untuk sementara waktu, meliburkan sekolah, pesantren dan perguruan tinggi melakukan kegiatan belajar mengajar secara online yang tentu secara umum kurang efektif. 

Secara teologis (berdasarkan ilmu tauhid) harus diyakini bahwa terjadinya bencana ini tidak terlepas dari qada dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa Allah sedang menguji dengan memberikan cobaan kepada kita semua.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْن

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:155)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : 

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Tidak suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Secara etika (berdasarkan ilmu akhlak) dengan adanya wabah Covid-19 ini kita harus meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman : 

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat.” (QS. Al-Baqarah: 45)

InsyaaAllah dengan adanya wabah ini dapat menjadikan kita pribadi yang lebih dekat lagi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Serta menjadikan kesempatan untuk semakin memperbaiki kualitas ibadah kita. Jangan sampai adanya wabah ini menjadikan kita rugi fisik dan ruhani sekaligus rugi jiwa dan iman. Namun hendaklah kita terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah sehingga dapat menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh-Nya. Dengan demikian Tauhid memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting dalam islam. Dengan tauhid maka kita akan tetap menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya secara konsisten dengan penuh keikhlasan apapun kondisinya.

  

Sumber:

Shirozi, A. dan Az-zahra, S. Urgensi Tauhid dalam Kehidupan, Pribadi Keluarga, Masyarakat & Profesi. (URL: https://onlinelearning.uhamka.ac.id/mod/resource/view.php?id=148786&lang=id)

Bustomi, J., Sanah, S., dan Siregar, Z.U. (2020). “Menyikapi Wabah Penyakit Covid-19 dalam Bertasawuf.” (URL: https://core.ac.uk/download/pdf/327164507.pdf)

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2013). Urgensi Memiliki Tauhid yang Benar. (https://rumaysho.com/3270-urgensi-memiliki-tauhid-yang-benar.html)

Menjaga Semangat Ibadah tetap Istiqomah Setelah Ramadhan

 
     Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh ikhwah sekalian. Alhamdulillah, sudah sepantasnya kita bersyukur atas banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita dari awal kehidupan hingga saat ini. Terutama di tahun ini kita telah diberikan kesempatan untuk berjumpa kembali di bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan. Semoga amalan-amalan ibadah kita dirahmati dan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala Aamiin Aamiin yaa Mujiibassailiin. 

         Saat ini bulan Ramadhan telah berlalu beberapa hari, bagaimana kabar ibadah kita? Semoga tetap semangat ya. Jangan sampai dengan berlalunya bulan Ramadhan ini menjadikan semangat kita dalam beribadah pun ikut berlalu. Dan kemudian kini kita telah memasuki babak baru yaitu bulan Syawal. Dan pembahasan kita kali ini mengenai bagaimana upaya agar semangat ibadah kita tetap istiqomah setelah Ramadhan berlalu serta amalan-amalan yang dapat dilakukan di bulan Syawal ini.
     
       Kunci penting agar semangat ibadah di bulan Ramadhan tetap berkobar yaitu adanya niat yang besar sehingga jiwa merasa tenang dan terjaga dari perbuatan buruk. Berikut merupakan beberapa cara agar semangat ibadah tetap terjaga setelah Ramadhan, yaitu:
1. Membaca Al-Qur’an setiap hari
   Membaca Al-Qur’an merupakan amalan baik yang tidak terlewat di bulan Ramadhan. Bahkan beberapa diantaranya dapat mengkhatamkan lebih dari sekali selama satu bulan. Nah, membaca Al-Qur’an dapat menjadi salah satu jalan agar semangat ibadah tetap istiqomah. Yang diperlukan yaitu konsistensi dan keistiqomahan dalam menjalankannya, tidak mengapa membaca Al-Qur’an dua    halaman dalam sehari asalkan konsisten. Nah, apabila hal ini dilakukan terus-menerus setiap hari  maka insyaaAllah dapat istiqomah bahkan menambah intensitas bacaan di setiap harinya. Selain itu, tentunya diri kita pun terjaga lisannya karena selalu dekat dengan firman-Nya.
 
2. Berdo’a dengan Ikhlas setiap hari
    Kiat lainnya dalam menjaga semangat ibadah yaitu dengan berdo’a setiap hari. Allah Subhanahu wa   ta’ala berfirman:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ             
    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
    Dalam firman Allah tersebut dijelaskan bahwa Allah akan mengabulkan do’a setiap hamba-hamba Nya. Sehingga setiap berjumpa bulan Ramadhan tentunya kita terbiasa berdo’a memohon ampunan kepada Allah. Nah, kemudian setelah bulan Ramadhan berlalu pun tentunya kita dapat mencoba membiasakan diri berdo’a kepada Allah dengan ikhlas, mencurahkan perasaan kepada-Nya serta memohon dengan sungguh-sungguh diikuti dengan ikhtiar kita kepada-Nya.
 
3. Teruslah beramal baik
    Kiat selanjutnya yaitu dengan terus menebarkan kebaikan. Karena dengan beramal baik, maka hal itu menunjukkan rasa syukur kita atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Beramal baik tidak harus dengan harta yang berjumlah besar, akan tetapi berapapun jumlah yang dapat kita berikan kepada sesama yang membutuhkan itu akan sangat berarti bagi mereka. Beramal yang baik pun tidak selalu harus dalam bentuk yang besar, namun bisa dimulai melalui hal-hal kecil seperti saling membantu sesama yang membutuhkan pertolongan.
    Allah pun berjanji akan melipatgandakan rezeki bagi siapa saja yang beramal karena Allah Subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً ۗوَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
   “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan  hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245).
   Kemudian setelah pembahasan mengenai kiat-kiat dalam menjaga semangat ibadah tetap istiqomah setelah ramadhan, maka pembahasan kita selanjutnya mengenai amalan di bulan Syawal yang utama     yaitu puasa Syawal.
      Dari Abu Ayyub Al-Anshary radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ        
     “Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal,  maka itu seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164).  
      Dalil ini dinyatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah adalah dalil yang shahih dan sharih (tegas).  
 
      Terdapat beberapa pelajaran dari amalan puasa Syawal ini, diantaranya yaitu:
1. Puasa Syawal akan menggenapkan pahala berpuasa setahun penuh
Seperti yang telah disebutkan dalam hadis riwayat Muslim di atas, maka diantara hikmah adanya puasa Syawal ini yaitu menggenapkan puasa seperti berpuasa setahun penuh. Karena, menurut para ulama asalnya adalah setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:56).
 
2. Melaksanakan puasa Syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup 
    kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib
Maksudnya adalah bahwa puasa Syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada saat puasa wajib di bulan Ramadhan, sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Pastinya kita seringkali melakukan kesalahan sehingga memiliki kekurangan saat di bulan Ramadhan, walaupun pasti ada kekurangan yang meski disempurnakan.
 
3. Melakukan puasa Syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan 
Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada 
amalan sholih selanjutnya, diantaranya puasa enam hari di bulan Syawal. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf.

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
 “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara baasan kejelekan adalah              kejelekan selanjutnya.
 
4. Melaksanakan puasa Syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah Subhanahu wa ta’ala 
Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika beliau ditanya oleh istri tercinta yaitu Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,

أَفَلاَأُحِبُّأَنْأَكُونَعَبْدًاشَكُورً
“Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?
 
5. Melaksanakan puasa Syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu atau berkelanjutan dan 
    bukan musiman saja 
Mari perhatikan perkataan Ibnu Rajab berikut, “Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 393).
 
Sumber :
Tuasikal, Muhammad Abduh. (2021). “Khutbah Jumat: Fikih Ringkas Puasa Syawal” dalam https://rumaysho.com/28352-khutbah-jumat-fikih-ringkas-puasa-syawal.html. Diakses pada 18 Mei 2021.
Sabiila, Syahidah Izzata. (2020). “6 Cara Agar Semangat Ibadah Setelah Ramadhan Tetap Terjaga” dalam https://m.dream.co.id/news/6-cara-agar-semangat-ibadah-setelah-ramadhan-tetap-terjaga-200513u.html. Diakses pada 18 Mei 2021.

Keistimewaan Khadijah Radhiyallahu 'anha

 


 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, bagaimana kabar teman-teman?

    Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas terkait dengan kisah Khadijah Radhiyallahu’anha. Bagaimana keutamaan Istri nabi yang pertama ini. Mari kita simak bahasan berikut ini :

 

1.   Khadijah Radhiyallahu’anha adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan pertama kali diajarkan wudhu dan shalat dengan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khadijah memiliki keistimewaan dibandingkan dengan istri-istri Nabi lainnya, hal inilah yang menunjukkan bahwa beliau sosok wanita yang mulia. Dari hal ini, terlihat keistimewaan Khadijah dari sisi berikut ini :

a.    Beriman kepada Allah serta membenarkan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan hal yang utama. Beliau percaya walau hanya dari perkataan Rasulullah saja. Beliau pun juga menjadi orang yang berjasa bagi dakwah Rasulullah. 

b.    Menghapus dosa dengan berwudhu.

c.    Shalat adalah rukun Islam yang utama setelah dua kalimat syahadat.

Imam Adz-Dzahabi menyatakan pula, “Khadijah Ummul Mukminin adalah orang yang pertama kali beriman pada (ajaran) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenarkannya sebelum yang lainnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 2:109).

 

2.   Khadijah Radhiyallahu’anha membantu dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Khadijah membantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam saat beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira. Bahkan sebelum menerima wahyu pun, beliau selalu membantu Nabi dengan memberikan ketenangan hati untuk menguatkannya.

 

3.               3.    Khadijah Radhiyallahu’anha mendapat salam dari Allah dan Malaikat Jibril ‘alaihi salam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,:

أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ

“Pada suatu ketika Jibril pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk, atau makanan atau minuman.’ ‘Apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.’” (HR. Bukhari, no. 3820 dan Muslim, no. 2432).

4.  Khadijah Radhiyallahu’anha mendapatkan rumah di surga.

Beliau adalah gambaran seorang istri yang berbakti kepada suaminya, sekaligus ibu yang begitu menyayangi anak-anaknya. Semua anak Nabi lahir dari rahimnya, kecuali Ibrahim. Beliau juga menjadi sosok istri yang santun dan berakhlak luhur, dia tidak pernah membantah perkataan suaminya atau menyakiti perasaannya sekali pun.

Untuk itu, beliau berhak mendapatkan balasan yang layak atas segala kebaikannya. Nabi bersabda: "Jibril pernah mendatangiku lalu berkata: 'Sampaikanlah berita gembira kepada Khadijah bahwa dia akan mendapatkan sebuah rumah di surga. Rumah itu terbuat dari mutiara berongga. Dia tidak akan mendapati hiruk pikuk atau merasakan keletihan di dalamnya'". Penegasan tersebut termaktub dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

5.  Khadijah Radhiyallahu’anha merupakan wanita terbaik di dunia dan akhirat.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ

“Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam putri Imran dan Khadijah.” (HR. Bukhari, no. 3432 dan Muslim, no. 2430). Makna yang paling nampak antara Maryam dan Khadijah adalah wanita terbaik di masanya masing-masing. Demikianlah disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 15:176.

6.     Khadijah Radhiyallahu’anha banyak mendapatkan pujian dari orang lain.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِى بِثَلاَثِ سِنِينَ لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِيهَا إِلَى خَلاَئِلِهَا

Aku tidak cemburu pada seorang wanita pun melebihi kecemburuanku pada Khadijah. Sungguh dia telah wafat tiga tahun sebelum Rasulullah menikahiku. Kecemburuanku disebabkan aku pernah mendengar Nabi untuk memberikan kabar gembira kepadanya (Khadijah) bahwa ia mendapatkan rumah disurga yang terbuat dari perhiasan. Ditambah lagi, apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kambing lalu beliau akan menghadiahkan sahabat-sahabat Khadijah.” (HR.Muslim, no. 2435)

7.     Rasulullah masih memberikan penghormatan pada kerabat dan sahabat-sahabat dari Khadijah.

'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah mengatakan jika ia tidak pernah memiliki rasa cemburu pada wanita selain kepada Khadijah. Padahal saat dia mengatakan hal tersebut, beliau belum pernah menjumpai Khadijah. Beliau cemburu dikarenakan Rasulullah selalu menyebut nama Khadijah. Rasullullah pun juga menyembelih  kambing, lalu Rasul kirim untuk sahabat Khadijah

Aisyah radhiyallahu ‘anha pun pernah berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَأَنَّهَ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Khadijah itu begini dan begitu, dan aku mendapatkan anak darinya.” (HR. Bukhari, no. 3818)

Demikianlah keistimewaan yang dimiliki oleh Khadijah Radhiyallahu’anha. Semoga kita sebagai muslimah dapat meneladani segala sikap dan ketaatan yang dimiliki oleh beliau. Sekian, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

 

Sumber :

1. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. 2017. (URL : https://rumaysho.com/16638-faedah-sirah 

    nabi-keutamaan khadijah.html)

2.KonsultasiSyariah.com, (URL : https://almanhaj.or.id/962-yang pertamakalimasukislam.html)

3. Republika.co.id, (URL : https://www.republika.co.id/berita/qazise366/khadijahdicintai-allah-malaikat-dan-rasulullah)